Bagi Ade Lukman, ilustrator di belakang layar @komikluks, zaman sekarang banyak banget komik yang dibuat sekadar untuk lucu-lucuan. Memang, Lukman awalnya membuat komik dengan mengusung komedi dalamnya, tapi lama-kelamaan, ia sadar bahwa ia ingin jadi ilustrator komik dengan ciri khas yang berbeda.

“Saya itu orangnya enggak mau samaan. Ya udah, saya bikin ide komik dari keresahan saya pribadi dengan pembawaan komedi yang rada satir dan sarkas. Dan saya mendeklarasikan genre komik saya Sarkasme Post Modernisme aneh dan kayaknya belum ada di Indonesia,” ujar Lukman ketika dihubungi Indonesianyouth.org baru-baru ini.

Untuk membuat komik dengan genre tersebut, lelaki berusia 23 tahun ini mengaku tidak kesulitan dalam mencari ide. Salah satu komik yang dibuat dan diunggahnya di Instagram adalah sindiran pada pekerja kantoran yang menjelang jam pulang kantor, masih saja dikasih tumpukkan tugas oleh si bos. “Mampus Kau Dikoyak-koyak Korporat”, menjadi tulisan yang melengkapi komiknya tersebut.

“Kalau ide komik mah gampang banget, karena ide udah dikasih gratisan sama Tuhan dan tema komik saya ambil dari keseharian yang saya liat. Tinggal kita pilih-pilih lagi ide mana yang mau dibuat komik,” ujar Lukman.

Di setiap komik yang dihasilkan Lukman, ia pun selalu menonjolkan ciri khasnya supaya karyanya makin dikenal banyak orang.

“Komik saya enggak pakai komedi pada umumnya, apalagi jokes receh yang udah berhamburan ke mana-mana. Mungkin karena jokes saya sarkas dan nusuk banget ke orang-orang, sampai semua orang ada yang sampai kesel dan marah-marah tiap liat komik saya,” ujar Lukman.

“Itulah yang ngebedain komik saya dengan komik yang lainnya. Sama karakter saya yang lebih dikuatin, yaitu si baju garis merah hitam itu, yang awalnya penggambaran diri saya sendiri,” tambahnya.

Lantas, untuk menghasilkan komik yang keren, tools apa sih, yang digunakan @komikluks? Well, ternyata awalnya Lukman juga menggambar secara manual, kemudian di-scan dan diwarnai dengan Photoshop. Namun, karena sang Ibu sering membuang gambar-gambar manualnya karena dikira sampah kertas, Lukman pun mulai beranjak ke digital.

“Pakai Wacom Intuos yang waktu itu saya beli dari anak sekolah SMA. Awalnya saya enggak bisa pakainya dan hampir mau nyerah buat komik. Tapi lama-kelamaan saya paksain aja, ternyata ya lumayan bisa walau gambarnya masih gitu-gitu aja. Hahaha,” ucap lelaki kelahiran 28 Maret 1994 ini.

Lukman memberi sedikit tips bagi anak muda Indonesia yang pengin membuat komik di Instagram. Menurutnya, semua dimulai dengan memulai, meski belum bagus. Berproses.

“Mulai aja dulu, jelek enggak apa-apa. Nanti juga berproses. Yang penting nikmatin tiap prosesnya dan yang penting, jadilah diri sendiri,” tukasnya.