Sebagian besar orang menganggap kosakata yang berarti baik adalah yang bermanfaat atau perlu dilakukan. Dan yang berarti buruk harus dihindari karena akan mendatangkan mudarat atau bahkan bencana. Namun kadang orang tidak sadar bahwa bencana kadang menempa kita menjadi pribadi yang lebih solid: solid antara pemikiran dan tindakan, solid antara idealisme dan perbuatan, solid antara janji dan pembuktian.

Banyak kata–kata yang sebenarnya bisa mendatangkan soliditas diri dalam mencapai sesuatu. Sesuatu yang baik tentunya. Dalam tulisan ini saya mencoba mengurai beberapa kata yang sering digunakan untuk mencaci, menuduh, bahkan mengutuk orang–orang yang kita benci atau remehkan.

Kata pertama adalah “subjektif”. Banyak dari kita yang menjadikan “objektifitas” menjadi tameng seseorang untuk memengaruhi orang lain. Kata objektif terlihat lebih santun dan halus karena kata tersebut seperti melibatkan orang lain di dalam setiap pendapat. Namun subjektifitas harus dimiliki bahkan ditunjukkan oleh orang–orang yang memiliki pemikiran besar: atas subjektifitas Soekarnolah Indonesia bisa merdeka –tentunya dengan bantuan berbagai pihak tapi beliau punya subjektifitas yang sangat kental sehingga kita bisa menikmati kemerdekaan. Atau dalam diri Steve Jobs yang memperjuangkan subjektifitasnya dan mengorbankan banyak hal demi Apple, sebuah brand yang turut membantu banyak orang –mulai dari orang yang benar–benar merasakan manfaat Apple atau hanya bergaya saja, atau manfaatnya cuma untuk bergaya? Ya terserah. Dan masih banyak orang yang berhasil karena subjektifitasnya.

Maka, bagi yang ingin diapresiasi pemikiranya jadilah diri sendiri dan berpendapatlah se-subjektif mungkin. Karena subjektif bisa melahirkan originalitas juga apresiasi. Dan apresiasi bisa mendatangkan dukungan, dan dukungan melahirkan dampak yang besar.

Tetapi, subjektifitas sebenarnya saja bisa luntur, bila tanpa adanya “ego”. Di sini ego berperan menjaga subjektifitas. Sekali lagi, ini kerap dicap negatif.

Jika subjektifitas adalah sebuah mobil, maka ego adalah bensinnya. Ego tidak semata–mata buruk –walaupun banyak orang egois yang merugikan orang lain. Memelihara ego merupakan hal yang dibutuhkan orang–orang besar untuk melawan segala ujian yang ada di depan matanya. Menjadi egois demi sesuatu bermanfaat merupakan hal yang dilakukan oleh para idola masyarakat sekarang.

Contoh sederhana, politisi keluar dari partai karena partainya mendukung Pilkada tidak langsung. Seketika politis tersebut diterpa banyak komentar, bahwa ia adalah orang yang sangat egois. Meski egonya mendatangkan dukungan yang sangat besar sampai akhir masa jabatannya.

Kendati begitu, subjektif dan ego belumlah cukup. Ibarat mobil dengan bensinnya namun tak punya tujuan. Mobil memang sebuah alat transportasi tetapi esensi dari transportasi itu hilang jika sang pemilik mobil tidak memiliki tujuan. Sebuah kata yang sangat dekat dengan “tujuan” adalah “ambisi”.

Ambisi memang tidak buruk. Tapi kalau menjadi ambisius, di beberapa kalangan, merupakan kata yang buruk. Kadang orang ambisius dinilai sebagai orang yang tidak menikmati hidup. Namun sebenarnya jika subjektifitas, egoisme, dan ambisi dijadikan satu, maka lengkap sudah mobil, bensin, dan tujuannya.

Ambisi membawa dan menuntut kita untuk menempuh tujuan apa yang harus kita capai. Ambisi membawa orang mencapai tujuan tertentu lebih dahulu dari orang–orang sekitarnya, dan ambisi juga yang membuat tujuan lebih jelas dan nyata.

Maka jika pertama kita berpikir bahwa kata subjektif, egois, dan ambisius sangat cocok untuk kita pakai untuk mencela orang, apakah benar? Apakah di saat mencela kita menggunakan subjektifitas kita untuk mencela orang tersebut? Apakah di saat mencela orang lain egois bahwa kita sendiri sedang menunjukan ego tersebut? Atau jika kita mengatakan orang terlalu ambisius hanya tersisa tiga pilihan, yaitu, membalap dia dengan lebih ambisius, mengikuti ambisinya sehingga kita mengamini ambisi tersebut atau tertinggal dan menyesal?

Sering kali orang lupa bahwa semua ada kadarnya, kadang juga lupa kalau segala yang “terlalu” itu tidak baik. Maka mereka yang keterlaluan ini adalah orang–orang yang berkontribusi paling besar dalam membuat ketiga kata tersebut menjadi sebuah kata yang dihindari para orang hebat dalam berpendapat.

Kita kadang tidak sanggup menikmati kejujuran. Kita lebih sanggup menikmati kebohongan yang di-manis-manis-kan dan berakibat ‘diabetes’ di kemudian hari.

Jadi akan lebih baik jika subjektifitas diartikan sama dengan gagasan, ego dimaknakan sebagai spirit, dan ambisi dipandang sama seperti tujuan.