28 Oktober 1928, salah satu momentum bersejarah di Indonesia yang kala itu lahir sebuah tonggak perjalanan kemerdekaan Indonesia bernama Sumpah Pemuda.

Seperti namanya, Sumpah Pemuda diinisiasi oleh barisan anak muda dengan tekad luar biasa agar bangsa Indonesia menancapkan kedaulatannya secara utuh atas penjajah.

Sebut saja Soegondo Djojopoespito Soegondo, Djoko MarsaidIalah, oenario Sastrowardoyo, Johannes Leimena, Mohammad Yamin, Amir Syariffudin, W. R. Soepratman, Kartosoewirdjo, Theodora Athia Salim, dan Mohammad Roem adalah segelintir nama yang turut melahirkan Sumpah Pemuda melalui Kongres Pemuda II.

Masih ada banyak lagi pemuda–yang tidak mungkin dituliskan satu per satu di sini– dari berbagai perkumpulan, seperti perkumpulan Jong Java, Jong Maluku, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sumatera Bond, Jong Islamieten Bond, Jong, Celebes, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, dan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI) yang punya peran sama besarnya.

Selain nama-nama tadi, ada satu nama yang turut berjasa atas lahirnya Sumpah Pemuda. Meski, namanya tak masuk ke dalam barisan.

Ialah Sie Kong Liong, yang menyewakan rumahnya untuk dijadikan tempat pertemuan para pemuda dalam merumuskan sumpah yang berbunyi sebanyak tiga butir itu.

Rumah milik pria asli Tionghoa ini syarat dengan sejarah. Di rumah ini juga karya sastra Muhammad Yamin dan Aboe Hanifah lahir. Di tempat itu pula, Amir Sjarifudin, pimpinan redaksi majalah Pujangga Baru, pernah tinggal.

Setahun kemudian, tempatnya pada September 1926, rumah yang diberi nama Commensalen Huis –dan sempat berganti menjadi Langen Siswo– ini menjadi pusat kegiatan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI).

Pada akhirnya rumah Sie Kong Liong diresmikan menjadi Museum Sumpah Pemuda pada 1973 oleh Gubernur DKI Jakarta ketika itu Ali Sadikin.

sumber: Kemdikbud