Dalam sebuah kesempatan workshop yang diadakan oleh IYC (16/12), Wisnu Nugroho, Editor in Chief Kompas.com membedah beberapa hal yang terkait dengan dunianya, jurnalistik. Sedikitnya ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Wisnu.

Yang pertama, prinsip dasar sebagai seorang jurnalis. Rasanya, sebuah sikap dasar yang mestinya dimiliki oleh jurnalis adalah skeptis. Skeptis mengantarkan kita untuk berupaya mencari tahu, dan skeptis dapat menuntun kita kepada kebenaran. Kalau kita hanya punya sikap dasar skeptis tanpa upaya untuk mencari tahu, kepala bisa pecah.

Memiliki sikap skeptis juga berarti membantu kita untuk lebih jernih melihat berbagai fenomena. kita harus memilah untuk bisa mendapatkan informasi mana yang nantinya kita teruskan. Kita harus memilah agar kita tidak menjadi sumber pemberi kecemasan, agar informasi yang kita berikan menjadi informasi yang bermanfaat.

Yang kedua dari poin penting yang disampaikan oleh penulis tetralogi tentang Pak Beye ini adalah news values. News values ini menjadi pegangan untuk media, untuk menjadi dasar sebuah tulisan. Yang dimaksud dengan news values ini juga memiliki beragam faktor.

Sesuatu menjadi bernilai ketika memiliki pengaruh. Oleh sebab itu rumusan dampak-penting-pengaruh mesti dikedepankan untuk menjadi ukuran apakah sebuah artikel layak ditulis. Di samping itu, aktualitas juga menambah bobot sebuah berita.
Bukan hanya dalam kisah-kisah non fiksi saja yang menganggap ketokohan itu penting. Tokoh dapat bernilai sebagai berita. Faktor kedekatan juga menjadi nilai tambah. Semakin terasa dekat dengan kehidupan kita, boleh jadi itu semakin bernilai.

Hal selanjutnya yang dapat mendukung news values adalah yang terkait dengan perasaan kita sebagai manusia: human interest. Berikutnya, mengenai sesuatu yang unik dan ganjil. Lain daripada yang lain tentu saja membuat sebuah nilai yang berbeda. Dan yang terakhir, yang selalu sukses adalah yang berkaitan dengan seks.

Selain faktor-faktor yang dijabarkan barusan, pertimbangan publik juga penting untuk dilakukan, karena media adalah pekerjaan seleksi. Tidak semua kejadian dan masalah masuk sebagai berita di media. Seleksi berimplikasi pada kriteria dan kualifikasi. Selera publik mau tidak mau menjadi pertimbangan, karena berita dipersaingkan.

Perilaku publik, sebanyak 79% tidak membaca kata demi kata, hanya meninjau (scanning). Apa yang ditinjau? Judul. Clickbait. Semakin Panjang kalimat, semakin tidak dibaca.

Yang ketiga, dari poin penting yang disampaikan oleh Wisnu Nugroho adalah tentang etika. Apa sih yang diatur dalam kode etik jurnalistik?

Wartawan harus bersikap independen. Isu sekarang ini hampir semua media dimiliki oleh partai politik. Kita sebagai orang yang mengkonsumsi media harus sadar. Wartawan menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Wartawan Indonesia menempuh cara yang professional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Upaya kita mencampurkan opini dan fakta seringkali terjadi dan menjadi sumber dari masalah.

Wartawan Indonesia tidak menyebarkan identitas korban kejahatan asusila. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitasnya maupun keberadaannya.

Wartawan menyiarkan berita tidak diskriminasi. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya kecuali untuk kepentingan publik. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Betapa sulit ternyata untuk menjadi garda depan pemberi informasi. Menerima informasi pun bukan hal yang mudah sebetulnya. Karena setelah dicoba dengan membuat tulisan ini, sepertinya saya merasa gagal.