Sebuah organisasi media nirlaba, Orb Media bersama ilmuwan dari University of Minnesota dan State University of New York melakukan penelitan kandungan air di 5 benua. Hasil mengejutkan.

Penelitian itu mencoba menguji sampel air keran di Amerika Serikat, Eropa, Indonesia, India, Lebanon, Uganda, dan Ekuador.

Dari seluruh sampel air yang diuji 83 persennya terkandung mikroplastik atau partikel terkecil dari plastik.

Di Amerika Serikat, misalnya, dari seluruh sampel air yang diambil, 94,4 persennya mengandung mikroplastik. Dan paling banyak ditemui di pusat Environmental Protection Agency, Gedung Kongres, dan Trump Tower di New York.

Terbanyak lainnya ditemukan di Lebanon (93,8 persen), India (82,4 persen), Uganda (80,8 persen), Ekuador (79,2 persen), Indonesia, (76,2 persen), dan Eropa (72,2 persen).

Untuk di Indonesia, mengutip Tempo.co (yang secara ekslusif menerima hasil penelitian dari Orb Media), sampel diambil dari lima kawasan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan, dan Bekasi. Hasilnya tak kalah mengejutkan.

Dari 21 sampel (per sampel rata-rata 500 mililiter) yang diambil, sebanyak 76 persen di antaranya terkandung mikroplastik. Dan air tersebut, dinyatakan pihak responden biasa digunakan untuk minum, mandi, atau mencuci.

Berkaca dari tingginya kontaminasi mikroplastik terhadap air, rasanya juga perlu menelisik jumlah sampah plastik di Indonesia yang faktanya mencapai berton-ton tiap tahun.

Berdasarkan data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen dari jumlah tersebut berupa sampah plastik.

sumber: Orb Media, The Guardian, Tempo