Cornelis de Houtman, salah seorang utusan Belanda untuk menjelajahi Indonesia, pertama kali saya lihat namanya bertengger di buku pelajaran IPS kelas 4 SD pada saat itu. Ia pernah memiliki pengalaman dihadang oleh pelaut perempuan, hingga terjebak dalam garis batas hidup dan mati. Lawan yang dihadapi oleh Cornelis de Houtman terlalu kuat, ia tewas.

Belanda belum menyerah. Mereka mengirim utusannya untuk mencoba menembus perairan Selat Malaka. Paulus van Caerden bersama pasukannya menjarah kapal-kapal yang bermuatan rempah-rempah. Lagi-lagi, hubungan dagang Belanda digagalkan oleh perempuan yang sama dengan yang menewaskan Cornelis de Houtman.

Penguasa negeri yang terkenal dengan bunga tulipnya itu, Maurits van Oranje mengirim utusan yang membawa secarik surat permintaan maaf kepada Kerajaan Aceh. Lagi-lagi, perempuan tangguh itu yang menemui utusan dari Belanda. Belanda terpaksa merogoh kocek 50 ribu gulden sebagai kompensasi atas tindakan Paulus van Caerden. Dan pasukannya yang ditawan oleh perempuan tangguh itu dibebaskan.

Perempuan yang pernah menewaskan utusan Belanda itu sudah kehilangan suaminya yang gugur di sebuah pertempuran. Tak akan pernah memiliki mental tangguh jika ia hanya meratapi nasib kehilangan suaminya, ia meminta izin pada Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riatsyah untuk membentuk pasukan Inong Balee (janda).

Permohonan izin disetujui, lalu ia menjadi pemimpin pasukan itu. Pasukannya berjumlah sekitar 2000 orang. Mereka mendirikan sebuah benteng di kawasan Krueng Raya, Aceh Besar, yang posisinya menghadap langsung ke Selat Malaka.

Demi membela dan memperjuangkan tanah Aceh serta janda yang kehilangan suaminya saat bertempur, atas dasar kesamaan nasib itulah Inong Balee terbentuk dan ditakuti. Lantas siapa perempuan yang menjadi pemimpin dan disegani serta berhasil memukul Belanda itu?

Ia adalah Keumala Hayati, atau lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati. Seorang janda yang memimpin angkatan laut Kesultanan Aceh pada saat itu. Ia juga merupakan laksamana wanita pertama di dunia.

Pada peringatan Hari Pahlawan 2017, Presiden Joko Widodo menyematkan nama Laksamana Malahayati resmi abadi sebagai Pahlawan Nasional -bersama tiga nama lainnya seperti TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Provinsi Kepulauan Riau, dan Lafran Pane dari Provinsi DI Yogyakarta.