Oktober 1943, Jepang merekrut para pemuda Indonesia untuk dijadikan tentara teritorial mereka, khususnya pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Hal ini dilakukan sebagai wujud antisipasi serangan yang dilakukan oleh sekutu. Maka lahirlah organisasi militer bernama Pembela Tanah Air (PETA).

Tanpa disadari kian hari harimau kecil peliharaan Jepang ini beranjak dewasa. Namun, seperti harimau umumnya yang tak pernah diberi makan maka ia akan memakan tuannya. PETA merencanakan sebuah pemberontakan di Blitar. Adalah Supriyadi penggagasnya. Ditetapkan 14 Februari 1945 sebagai waktu yang disepakati untuk menyerang tentara Jepang.

Pukul 03.00, serangan diluncurkan. Mortir diarahkan ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman perwira militer Jepang. Tak ketinggalan senapan mesin juga mengeker markas Kampetai. Sialnya, Jepang sudah mengendus ancaman pemberontakan itu. Bangunan-bangunan tersebut sudah dikosongkan terlebih dahulu. Pemberontakan PETA gagal.

Meski begitu, PETA, yang merupakan cikal bakal TNI, sebagaimana juga KNIL, telah melahirkan para jagoan-jagoan perang Indonesia, beserta juru taktik gerilyanya. Sebut saja Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Pria ini gemar bermain sepakbola. Ia pernah mengalami cedera karenanya. Dikutip dalam buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir, peletak dasar kultur TNI ini pernah berkata, “Saya cacat, tak layak masuk tentara.”

Di samping itu, Soedirman juga merupakan pemain teater yang andal, dan aktif di intrasekolah Putra-Putri Wiworotomo. Di situ jugalah ia terlibat cinta lokasi dengan seorang gadis bernama Alfiah.

Pandangan pertamanya terhadap Alfiah membuat Panglima Besar yang berzodiak Aquarius ini memutar otak agar bisa tetap dekat dengan wanita itu. Maka dijadikanlah Alfiah sebagai bendahara pada suatu kepanitiaan acara pementasan teater, yang Soedirman juga terlibat di dalamnya sebagai panitia inti. Keduanya juga merupakan pengurus Hizbul Wathan dan aktif di Pemuda Muhammadiyah Cilacap.

Alfiah berasal dari keluarga terpandang di kota kecil tepi laut Cilacap. Orang tua Alfiah juga merupakan pengurus Muhammadiyah. Soedirman sering berkunjung ke rumah Alfiah untuk melakukan koordinasi dengan ayahnya. Saat silaturahmi berkedok koordinasi internal Muhammadiyah itu sering dilakukan, saat itu pula kawan-kawan Soedirman menyadari bahwa ia menaruh hati pada Alfiah.

Dalam buku Soedirman & Alfiah, Soedirman menyatakan langsung kepada ayah Alfiah, “Beribu maaf, Bapak Haji. Maksud kedatangan saya pagi ini hendak minta kemurahan hati Bapak, agar Alfiah, putri Bapak, boleh saya jadikan teman hidup. Dia akan saya rawat sebaik-baiknya hingga kelak hari tua,” kata Soedirman saat melamar Alfiah.

Ayah dan ibu Alfiah setuju, tapi tidak serta merta dengan keluarga besarnya. Paman Alfiah, seorang saudagar, menyatakan keberatan atas hubungan Soedirman dengan keponakannya itu. Ia ingin keponakannya menikah dengan anak dari keluarga terpandang pula. Soedirman hanyalah seorang anak dari ajudan wedana yang tak seberapa penghasilannya.

Dukungan mengalir untuk Soedirman, ibunda Alfiah ikut membantu membiayai pernikahan, agar Soedirman tidak dipandang sebelah mata oleh keluarga besarnya. Namun sang paman Alfiah, Haji Mukmin, tetap bersikap dingin.

Di dalam buku Soedirman & Alfiah juga diceritakan, di tengah pertempuran melawan sekutu, Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar oleh Bung Karno. Seiring dengan itu, sikap dingin Haji Mukmin kepada Soedirman pun mencair. Dalam konvoi setelah pelantikan, Soedirman turun dari mobil dan mengajak pamannya naik, dan disaksikan seluruh warga sepanjang jalan.

Soedirman dan istrinya saling berbagi peran dalam rumah tangga sesuai dengan porsinya. Mereka saling menjaga rahasia keluarga. Soedirman ternyata sosok bapak yang welas asih dan sayang kepada istri maupun putra-putrinya. Dia memperlakukan istrinya dan mendidik putra-putri secara baik.

Saat Soedirman sakit, Alfiah mendukung lahir batin dan merelakan seluruh perhiasan pemberian orang tuanya untuk bekal sang suami di medan gerilya. Orang yang pernah memimpin perang di atas tandu ini pernah berujar pada istrinya, “Kalau seorang istri tidak tabah dan bijaksana, suami dan anak-anak tidak akan menjadi orang besar.”

Pria yang hanya hidup dengan separuh paru-parunya itu juga pernah mengatakan, “Kaulah prajurit sejati itu, Fiah. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup memberikannya.”

Dengan penuh cinta, Alfiah menjawab, “Aku menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga. Tetapi Bapak menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Kalaupun ada penghargaan yang kuterima, akan kuserahkan penghargaan itu kepadamu, Pak. Sebab tugas dan tanggung jawab Bapak jauh melampaui. Aku masih bisa istirahat saat anak-anak tidur. Tetapi, Bapak tak akan bisa istirahat saat para prajurit istirahat.”

Beberapa tahun kemudian, kondisi tubuh sang jenderal kian melemah. Ia menghembuskan napas terakhir dan menutup mata selamanya di usia 34 tahun. Sampai ajal menjemputnya, Alfiah tetap ada di sisinya. Pada hari itu, langit juga tak kuasa menahan air matanya mengiringi kepergian Panglima Besar Jenderal Soedirman.

sumber visual: IndonesianYouth.org/Sabila Anata.