Untuk para pelacur aksara, rasanya tak usah terlalu banyak berharap menemukan lembayung merona dalam sajak Wiji Thukul. Lebih-lebih pada pemuja senja, kau tak perlu repot cari tahu di mana Thukul mengantar senja untuk menyibak tirai malam. Mungkin hanya sedikit dari sajaknya yang terkenal, yang bisa kau gunakan sebagai caption untuk mendukung foto pada akun Instagrammu. Meski foto dan caption kerap ngga nyambung.

Tapi bila mencari tentang bagaimana kata-kata dapat memberikan perlawanan, bagaimana kata-kata dapat mewakilkan suara orang yang terpinggirkan, bagaimana kata-kata dapat mengancam kekuasaan, Wiji Thukul orang yang tepat. Hingga kemudian kata-kata itu Thukul perintahkan untuk beristirahat, namun diperintahkan untuk bangkit di saat yang tepat.

Dalam sebuah film “Istirahatlah Kata-kata” yang disutradarai Yosep Anggi Noen, menceritakan tentang seseorang yang emoh dibilang penyair protes. Film tersebut mengisahkan Wiji Thukul dalam kucing-kucingannya dengan aparat sejak 1996 hingga 1998. Sebulan menjelang runtuhnya kuasa Suharto, Thukul tak lagi ditemukan wujudnya. Hingga saat ini.

Percakapan Thukul cukup mengejutkan di awal film. Dengan lantang Thukul bertutur: “Rezim ini, rezim bangsat! Takut sama kata-kata.” Jelas, Thukul adalah orang berbahaya bagi pemerintah, menyulut api semangat kepada kaum-kaum tertindas “‚Ķmaka hanya ada satu kata: lawan!”. Penguasa gerah, kupingnya panas. Penguasa dibuat sibuk mencari. “Sekompi kacang ijo,” kata Thukul.

Dalam film ini juga diselipkan syair-syair Wiji Thukul. Dengan suara khas yang pelat, tiap untaian kata yang diucapkan memiliki nyawa tersendiri untuk menghidupkan metafora di dalamnya. Thukul muncul dalam tiap puisinya. Ia hadir terdepan dalam menyuarakan suara hati orang-orang yang tak berani bersuara.

Disampaikan pula dalam sajaknya yang tanpa judul, Wiji Thukul berterima kasih kepada yang telah memperkenalkan makna kata penindasan sejak dini kepada anak-anaknya. Karena dalam pembukaan sajaknya, ia mengatakan baru terima kabar dari kampung bahwa rumahnya digeledah, dan buku-bukunya dijarah.

Belum lagi soal sajak peringatan. Betul-betul luar biasa. Silakan coba baca sajak ini beramai-ramai. Di kampus, di sekolah, di komunitas, di kantor, di sanggar, di karang taruna, atau bahkan di tongkrongan sekalipun. Dengan nada yang datar saja, sajak ini sudah terasa tak bersahaja.

Sajaknya disampaikan dengan Bahasa yang tidak rumit. Analoginya pun tak jauh dari kehidupan manusia. Tak sulit dicerna, sebagaimana ia perumpamakan kemerdekaan seperti nasi, yang kemudian dimakan dan menjadi tahi.

Hampir terlupa, di pengujung film istri Thukul, Sipon, berkata: “Aku tak pernah mau kamu pergi, tapi aku juga tak ingin kamu pulang. aku cuma ingin kamu ada.” Sebuah harapan dengan kompleksitas yang cukup tinggi. Entah bagaimana penggambaran konkretnya. Yang jelas, itu yang Sipon inginkan. Karena nyatanya Thukul hilang, tak ada wujudnya, tak tahu di mana rimbanya. Meski ia tetap hadir dalam setiap kata-katanya.

Ah, rasanya saya terlalu malas untuk menceritakan isi filmnya. Silakan ditonton sendiri. Anda akan merasakan suasana mencekam tanpa harus sengaja dibuat tegang oleh filmnya.