Dalam sebuah obrolan santai, seorang kawan berujar pada saya, “Sebentar lagi bulan puasa nih. Tapi kayaknya sudah nggak ada bedanya, ya, sama bulan-bulan lainnya”. Apa iya?

Saya rasa hadirnya Ramadan, khususnya di Indonesia bisa menjadi bagian dari dunia yang lain, yang muncul secara tiba-tiba. Ramadan masih ditunggu-tunggu dan dinikmati ketika ia datang. Ramadan memiliki peran sebagai periode istimewa bagi umat Islam. Ramadan menjadi simbol pembeda dan pelarian dari rutinitas yang bisa saja membosankan selama 11 bulan lainnya.

Purnama boleh saja lebih populer ketimbang sabit. Tapi bulan sabit yang muncul pada tanggal satu dalam satuan Kamariah bisa menjadi pusat perhatian.

Ia lebih dikenal dengan nama hilal, dan selalu dicari keberadaannya. Kehadirannya dapat menentukan kapan Ramadan datang dan pergi. Pada bulan-bulan lainnya, saya ragu jika bulan sabit begitu diperhatikan.

Pada titik-titik tertentu kawasan sub-urban, menyambut kedatangan Ramadan masih dimeriahkan dengan pawai obor berkeliling kampung. Masih banyak warga yang menunjukan antusiasmenya dan mencoba untuk tetap menghidupkan nuansa sakralnya, serta menularkan ke masyarakat lainnya.

Kemeriahan Ramadan pada dasarnya bisa saja dirasakan oleh siapapun. Cirinya sangat mudah terbaca. Saat Ramadan, ketika menjelang petang, di pinggir jalan bisa digelar festival makanan dadakan. Angka panen buah timun suri tiba-tiba meningkat. Buah-buah lain bersatu dalam potongan kecil yang kemudian dibubuhi es dan sirup sebagai pemanis. Atau kolak pisang, makanan yang jarang saya temui di luar Ramadan. Di samping itu, Ramadan bahkan dapat menelurkan terminologi baru yang disepakati bersama: ngabuburit.

Melibatkan orang yang sudah mati juga seolah menjadi pelengkap. Beberapa hari menjelang Ramadan dan selepas Ramadan, orang yang masih hidup merasa perlu mendatangi makam leluhur, sanak saudara yang sudah meninggal. Ziarah pada momentum ini seolah menegaskan bahwa Ramadan mampu menyebrang ke alam lain, memudarkan batas-batas dunia nyata.

Melempar balik kenangan waktu masih anak-anak. Satu-satunya tempat yang sering dikunjungi dan ramai dengan suara anak-anak adalah di masjid –mungkin surau atau langgar di beberapa tempat. Ibadah kala itu jelas jauh dari khidmat.

Namun pada saat itu, ibadah adalah hal menyenangkan. Sambil bercanda tentu saja. Bermain petasan dilarang, tapi dilanggar pun tidak ada sanksi keras. Memainkan simulasi perang dengan senjata sarung adalah pemandangan umum di malam harinya.

Selepas subuh, bersama kawan-kawan sebaya di sekitar rumah saya biasanya bermain bola. Tak jarang juga diganti dengan bermain kasti. Permainan yang mendefinisikan home run apabila bolanya nyangkut di atap rumah warga.

Risiko kehausan setelah permainan itu usai  ditanggung masing-masing. Satu-satunya keajaiban yang diharapkan adalah lupa bahwa sedang berpuasa, agar dapat sekonyong-konyong pulang ke rumah, ambil gelas dan menunang air, lalu melepas dahaga.

Betapa menyenangkannya mengalami Ramadan pada masa anak-anak. Karena ketika dewasa, bisa jadi Ramadan memiliki arti yang lebih kompleks.

Oleh sebab itu bagi sebagian orang terasa bahwa Ramadan tak lagi menyenangkan. Tapi setidaknya bagi saya Ramadan memberikan warna. Ia seolah hadir sebagai satu kesatuan dari sebuah “festival” yang melibatkan segala elemen.