Sesi Politik di IYC 2017, siang hari, di akhir pekan, pada Sabtu, 16 Desember 2017, di Townsquare Cilandak, menggelar diskusi terbuka yang seringkali dianggap isu berat dan jauh dari anak muda: politik.

Sesi ini dipandu oleh pentolan-pentolan Asumsi, Pangeran Siahaan dan Iman Sjafei. Lalu menghadirkan narasumber Faldo Maldini, Ridwansyah Yusuf, Tsamara Amani. Diskusi dibawakan dengan santai, membawa politik hadir dekat dengan anak muda.

Faldo Maldini mengawali materinya dengan cerita bahwa ketika ia lahir, narasi politik sudah ikut serta dalam hidup sendi-sendi kehidupan. Politik praktis sudah digeluti Faldo sejak 4 tahun lalu, dan saat ini ia tergabung dengan Partai Amanat Nasional.

Ridwansyah Yusuf mengawali kaliatnya dengan berpendapat bahwa, politik itu sudah bagian dari hidup kita. “Jika saya bukan siapa-siapa, saya tidak bisa mengajak orang berbuat sesuatu. Tapi jika saya ada di dalam politik dan mengelola sesuatu, saya bisa melakukan berbagai hal dan kebijakan terkait kesehatan, pendidikan, dll.,” menurut Co-founder Bandung Strategic Leadership Forum (BSLF) ini.

“Anak muda memiliki satu hal yg tidak dimiliki generasi sebelumnya: ciri khas perjuangan,” ia menambahkan.

Pembicara selanjutnya, Tsamara Amani. Belum menyelesaikan skripsinya, tapi ia adalah ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia. Mahasiswi Paramadina ini beranggapan bahwa politik itu sangat dinamis. Ia menceritakan pengalamannya saat ke Mahkamah Konstitusi, saat ia berusia 19 tahun teriak menuntut bahwa ia tidak setuju dengan konsep partai politik, sebelum akhirnya ia kecemplung dalam pusaran politik praktis.

Diskusi berjalan cukup hangat untuk sejenak melupakan awan di luar yang sudah mulai gelap, dan membuat para peserta semakin enggan untuk angkat pantat agar tidak kehilangan tempat.

Seorang peserta memberanikan diri untuk menjadi penanya pertama dalam diskusi ini. Kepada semua narasumber ia mempertanyakan soal, “Mana yang harus didahulukan agar bisa membuat Indonesia maju: politik atau ekonomi? Dan apa modal yang membuat yakin (para narasumber) untuk maju menjadi kepala daerah?”

Faldo meladeni pertanyaannya dengan melontarkan pernyataan balik yang ia jawab sendiri pula, “setelah melewati fase umum kehidupan pendidikan, mau ke mana kita setelah lulus dari kuliah? Saya memilih untuk masuk ke politik.” Begitu yang ia utarakan.

Di samping itu, Faldo juga menyarankan, untuk mau masuk ke politik, buatlah sebuah bisnis. Tapi politik didahulukan ketimbang ekonomi. Dengan politik yang bermartabat, anak miskin bisa bermimpi jadi gubernur, dll.

Sementara Tsamara meyakini bahwa modal utama baginya adalah yakin. Ia beranggapan bahwa politik sama dengan jual produk. Para Kader yang ada adalah sebuah produk yang mesti dijual ke masyarakat dan meyakinkan orang-orang agar percaya kepada kader-kader dari partai politik.

Ridwansyah Yusuf menambahkan, bahwa modal yang membuat seseorang yakin untuk maju menjadi seorang kepala daerah adalah mengikuti yang dianggap teladan dan mesti memiliki kemampuan menginspirasi.

Untuk menjawab pertanyaan tentang mana yang harus didahulukan antara politik dan ekonomi, ketiganya sepakat bahwa hal itu tidak bisa dipisahkan. Ekonomi tidak bisa kuat kalau politiknya tidak stabil.

Seringkali politik dianggap sebagai lapangan yang kotor. Padahal politik kembali lagi tergantung pada niatnya. Jika orangnya baik, ya semua akan baik-baik saja, tapi jika memang sudah niatnya kotor, ya bisa jadi itu korupsi ujungnya.

Sejauh ini, adakah yang tidak memiliki niat kotor?