Data WHO menunjukkan tiga ratus juta orang mengalami depresi dan lebih dari 260 juta orang hidup dengan kecemasan. Dan hampir 1 juga orang melakukan bunuh diri tiap tahun. Tak aneh bila 1,4 persen dari penyebab kematian di seluruh dunia adalah bunuh diri.

Di Indonesia sendiri, tingkat bunuh diri berdasarkan catatan WHO mengalami peningkatan yang signifikan. Pada 2010 mencapai 1,8 per seratus ribu jiwa atau sekitar lima ribu orang per tahun. Kemudian pada 2012, estimasinya meningkat jadi 4,3 per seratus ribu jiwa atau sekitar sepuluh ribu per tahun.

Permasalahan lain yang tak boleh enyahkan adalah penyebab bunuh diri itu sendiri, yakni gangguan kesehatan mental, yang kerap mendapat stigma buruk dari masyarakat.

Baca juga:

Sebab, di Indonesia, berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 terdapat 56 ribu penderita ganggunan kesehatan mental yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan.

Padahal, salah satu Seruan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia tahun 2014 berbunyi, “Tidak melakukan stigmatisasi dan diskriminasi kepada siapapun juga dalam pelayanan kesehatan.”

Dari sisi pelayanan kesehatan juga masih jauh dari kata layak.  Riskesdas 2007 menemukan bahwa penderita gangguan mental yang diberikan fasilitas pengobatan sangatlah sedikit. Menurut perhitungan utilisasi layanan kesehatan jiwa di tingka primer, sekunder, dan tersier kesenjangan pengobatan diperkirakan lebih dari 90 persen. Artinya, hanya di bawah 10 persen orang dan masalah kesehatan jiwa terlayani di fasilitas kesehatan.

Penderita kesehatan mental di Indonesia masih diselimuti stigma buruk, padahal setiap orang, termasuk kita, berpotensi mengalami hal serupa. Keterbukaan akan isu kesehatan mental juga hampir tidak dilakukan, sedangkan keterbukaan membuat kita menjadi paham dan mampu mengenali, mengantisipasi dan menangani kesehatan mental terutama pada diri sendiri.

Lalu bagaimana sebenarnya isu kesehatan mental di Indonesia sendiri?

Di IndonesianYouth Conference 2017 x KIBAR yang akan berlangsung di Townsquare, Cilandak, Jakarta, 16 Desember mendatang, melalui sesi Talkshow Kesehatan Mental bersama Mulan Mantri (Co-Founder The Forgotten People) dan Rachel Amanda (Actress and Writer). Di sana, kamu bisa mencari tahu gambaran kesehatan mental di Indonesia dan bagaimana melawan stigmanya saat ini.

Penderita kesehatan mental di Indonesia masih diselimuti stigma buruk, padahal setiap orang berpotensi mengalami hal serupa. Selain itu, keterbukaan akan isu kesehatan mental jarang sekali dilakukan, padahal keterbukaan membuat kita menjadi paham dan mampu mengenali, mengantisipasi dan menangani kesehatan mental terutama pada diri sendiri. . Dalam sesi "Kesehatan Mental" ini, IYC mengajak kamu mencari tahu gambaran kesehatan mental di Indonesia dan bagaimana melawan stigmanya saat ini. . Yuk sama-sama melawan stigma! Segera beli tiketnya di indonesianyouth.id karena persediaan semakin terbatas 😁 . . . . . . . . . #IYC #IndonesianYouth #IndonesianYouthConference #Youth #YouthConference #IYCatCitos #KamiMasaDepan

A post shared by IndonesianYouth (@indonesianyouth) on

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talk Show atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar dibidangnya.