Bunyi peluit terdengar keras usai Presiden Jokowi Widodo memberikan sambutan di acara Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia di Kampus UI, Depok, Jumat (02/02/2018) kemarin. Adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Zaadit Taqwa, yang meniupkan peluit itu. Kemudian, bak wasit sepakbola, Zaadit mengeluarkan kartu kuning kepada Jokowi. Tindakan Zaadit adalah bentuk adaptasi komunikasi nonverbal dari olahraga sepakbola yang lahir pada tahun 1970.

Kartu kuning adalah simbol yang identik dalam pertandingan sepakbola. Simbol itu merupakan sebuah peringatan keras yang dikeluarkan sang pengadil ketika seorang pemain melakukan perbuatan tak terpuji, pelanggaran membahayakan, atau memprotes kepututsan wasit dengan kata-kata tidak pantas.

Kartu peringatan (kuning dan merah) sendiri dalam sepakbola sebenarnya terbilang baru, bila melihat sejarah yang sudah dimulai sejak 1900-an. Adalah wasit asal Inggris, Ken Aston, penggagasnya.

Suatu sore, Aston sedang memikirkan bagaimana membuat sebuah sistem hukuman pelanggaran yang jelas sembari berjalan-jalan dengan mobilnya. Di sebuah jalan Kensington, Aston menemukan idenya. Uniknya, ide ini muncul di persimpangan jalan. Ide Aston bersumber dari lampu lalu lintas.

“Saat saya sedang mengemudi di Jalan Raya Kensington, lampu lalu lintas menyala merah,” ungkap Aston dalam buku A History of Football in 100 Objects, dikutip Historia.id. “Saya lantas berpikir, ‘kuning berarti peringatan untuk berhati-hati; merah, berhenti, kamu dikeluarkan.”

Usulan itu lantas diterima FIFA, kemudian resmi diperkenalkan dan diberlakukan mulai Piala Dunia 1970 di Meksiko. Ide Aston itu pun digunakan hingga sekarang dan banyak diadaptasi oleh olahraga maupun bidang lain, bahkan seperti yang dilakukan Zaadit tadi.

“Kita memang kasih peringatan buat Jokowi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang sedang terjadi,” kata Zaadit, dikutip dari Kompas.com.