The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. He doesn’t know the cost of life, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depends on political decisions.

Dalam kalimat tersebut, rasanya Bertolt Brecht terlalu ciamik untuk menempatkan sentilan pamungkas yang amat relevan dengan situasi kapanpun: dahulu, kini, atau nanti. Seringkali persoalan politik dikesampingkan dengan berbagai alasan dan ketidakpedulian.

Pada dasarnya, politik menggerakkan hampir seluruh aspek kehidupan bernegara. Politik bukan hanya yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan secara langsung, namun ia masuk menelusuri tiap sisi kehidupan dari segala bidang, termasuk kesehatan dan pendidikan.

Memang saat ini yang acuh tak acuh terhadap politik, sedikit. Tetapi bukan berarti pula yang peduli itu juga banyak, terutama anak muda. Didukung dengan banjirnya informasi dari berbagai lini, anak muda semestinya telah terpanggil untuk melotot dan bergerak dalam siklus kebijakan-kebijakan politik itu sendiri. Terlebih lagi untuk di masa yang akan datang.

Peran penting anak muda bisa saja sesederhana mengetahui kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, namun mereka mestinya berbuat lebih dari itu. Ikut menyuarakan aspirasinya dan memastikan agar itu tetap terdengar sampai ke telinga para pemangku kepentingan, atau terjun langsung ke dalam pusaran politik, misalnya.

Lalu bagaimana caranya mengetahui pusaran dunia politik ketika kita sudah terjun ke dalamnya? Bagaimana memperjuangkan kepentingan publik? Apa benar banyak hal kotor dalam dunia politik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bsia kamu temukan jawabannya dalam sebuah format diskusi terbuka di IndonesianYouth Conference 2017 x Kibar yang akan berlangsung di Townsquare, Cilandak, Jakarta, 16 Desember mendatang melalui sesi Politik Public Discussion bersama Faldo Maldini (Founder pulangkampuang.com dan Wasekjen DPP PAN), Ridwansyah Yusuf (Co-founder Bandung Strategic Leadership Forum), Tsamara Amany (Partai Solidaritas Indonesia), dan akan dipandu oleh duo moderator yang tidak asing lagi: Pangeran Siahaan dan Iman Sjafei.

Anak muda sudah banyak yang mulai melek politik, namun kita harus lebih sadar akan pentingnya memastikan aspirasi terdengar oleh pemangku kepentingan. Salah satu caranya adalah masuk ke dalam pusaran politik. . Namun, sudah siapkah anak muda berpolitik? Apakah anak muda tahu apa yang dihadapi dalam dunia politik? . Dalam public discussion Politik: "Anak Muda dalam Pusaran Politik", IYC mengajak kamu berdiskusi bersama bagaimana untuk berpartisipasi politik secara tepat. . Untuk saat ini, tiket public discussion Politik sudah habis. Namun jangan khawatir, bagi kalian yang membeli tiket sesi berbayar, maka kalian pun dapat menghadari public discussion Politik ini (selama tempat masih tersedia). Sampai jumpa di IYC 2017 ya! 😁 . . . . . . . . . #IYC #IndonesianYouth #IndonesianYouthConference #Youth #YouthConference #IYCatCitos #KamiMasaDepan

A post shared by IndonesianYouth (@indonesianyouth) on

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talk Show atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar dibidangnya.