Terkait perkembangan teknologi, dua narasumber sesi Industry 4.0 –di kegiatan IndonesianYouth Conference 2017, Sabtu (16/12/2017) lalu– setuju: Indonesia masih tertinggal –meskipun menurut Prasetyo Adi Wicaksono dari Code For Indonesia, rata-rata penduduk Indonesia memiliki 1,5 telepon genggam.

Mengapa? “Orang kita sangat latah, … orang kita cepat (ikut tren), tapi apa produktif? Nggak juga,” jelasnya. Selain itu, ia juga mendapuk kurangnya pertanyaan “kenapa” — kurang ingin tahu mendalam — sebagai alasan lain.

Maka, untuk menyelesaikan –atau setidaknya meringankan– masalah ini, tujuan juga menjadi cara: teknologi perlu dijadikan jalan untuk mencapai manfaat maksimal bagi Indonesia. Para pegiat teknologi tentu sudah mengerti tentang ini, namun yang juga sangat penting adalah orang-orang di luar bidang ini.

Yang paling sederhana: Internet bisa membantu memperluas jaringan. Dan karena jangkauan kita menjadi begitu luas dengan menggunakan Internet, kita mempunyai opsi untuk menyaring kenalan dan organisasi yang cocok dengan visi kita. Ingin meningkatkan literasi teknologi? Ingin memajukan pendidikan Indonesia — demi mengkultivasi rasa ingin tahu? Mencari sekumpulan orang sepandangan jadi jauh lebih mudah.

Berbagai aplikasi — selain yang berfungsi untuk komunikasi dan berjejaring — juga bisa membantu. Program-program seperti Google Docs dan apps lain yang berbasis¬†cloud, misalnya, bisa dipakai membuat dokumen secara bersamaan tanpa harus berada dalam satu ruangan — hal yang memastikan efisiensi dimanapun kita berada, asal ada jaringan Internet dan gawai yang memadai.

Dengan teknologi, menyiarkan dan memperkuat gelombang kebaikan menjadi lebih mudah, asal ada pula visi yang memadai.