“Selesai. Sudah selesai. Akhirnya selesai juga,” pikirnya, saat tim lawan mencetak satu lagi gol di babak perpanjangan sekaligus mengukuhkan kekalahan timnya.

Tahun 2006, Per Mertesacker berumur 21 tahun dan baru pertama kali mencicipi Piala Dunia –yang saat itu diadakan di rumahnya sendiri, Jerman. Ia adalah bagian dari generasi Sommermaerchen: sekumpulan pemain muda Jerman yang pertama kali merumput di pesta olahraga megah itu.

Istilah Sommermaerchen semakin dikenal setelah film dokumenter tentang perjalanan Timnas Jerman di Piala Dunia 2006 yang berjudul Deutschland: Ein Sommermaerchen, atau dalam bahasa Indonesia berarti “Jerman: Sebuah Dongeng Musim Panas”, dipertontonkan.

Dokumenter tersebut menggambarkan sukacita Jerman menggelar salah satu pesta olahraga terbesar di dunia; yang juga di mana akhirnya warga Jerman kembali bangga dengan terbuka memajang bendera Jerman –setelah kebanggaan Jerman yang tamak di Perang Dunia kedua.

Namun perjalanan Jerman hanya sampai di semifinal. Dan ketika Die Mannschaft kalah di kandang sendiri oleh Italia sekaligus memupuskan harapan juara. Tapi perasaan terbesar yang Per rasakan justru lega.

“Kecewa, iya. Namun rasa lega mendominasi,” katanya, pada sebuah wawancara dengan Der Spiegel mengutip Deutsche Welle.

Per merasakan tekanan hebat. Perasaan tertekan itu selalu menemaninya sebelum peluit wasit memulai pertandingan. Ia kerap tegang dan mual-mual jelang pertandingan –di saat itu juga dia harus menutupinya di depan rekan satu tim, pelatih, hingga kamera.

“Perutku bergolak dan aku ingin muntah,” jelasnya.

Dalam wawancara ia juga menjelaskan bagaimana brutalnya sepakbola profesional: tekanan yang begitu berat dan menghancurkan, siklus latihan-tanding-latihan-tanding tanpa akhir, kritik, dan, tentu, hinaan. Semua itu membuat ia tak lagi dipandang sebagai manusia melainkan pemain sepakbola.

Di Jerman, negara yang begitu cinta sepak bola, pemain sepak bola terbaiknya dianggap aset yang amat berharga. “Rakyat (Jerman) mempunyai hak atas dirimu, Per,” ujar penggawa Juara Dunia 2014 ini, meniru perkataan orang-orang di sekitarnya yang berkali-kali diulang, sekalipun ia sedang jenuh setelah pertandingan yang berat.

Ironisnya, meski para bintang sepak bola begitu dipuja, Per merasa, “Kemanusiaan dalam olahraga ini hanya omong kosong.”

Contoh yang ia tunjuk adalah Robert Enke, yang bunuh diri karena depresi setelah anak perempuannya meninggal akibat kanker — yang juga kawan Per saat bermain di Hannover 96. “Bahkan saya tak tahu betapa buruknya keadaan dia (Robert) saat itu,” ulasnya dengan air mata yang menggenang. “That says something, right?

Ia tampak menangis di acara memorial untuk Robert Enke. Namun, ketika ditanya kenapa ia tetap bermain di saat berduka itu, ia menjawab bahwa tak ada yang lebih menyenangkan dari memenangkan pertandingan. Ia senang bersama timnya, dipuji pelatihnya, diidolakan anak-anak. Bola kembali berputar.

Karena wawancara ini, ia dikritik beberapa orang. Termasuk di antaranya adalah legenda hidup Jerman, Lothar Matthaeus. “Bagaimana ia mengajarkan profesionalisme di sepakbola jika ia menyebut bahwa tekanan di dalamnya begitu berat?”

Juga mantan rekan satum timnya saat membela Jerman di Piala Dunia 2006, Cristhoph Metzelder. “Saya tidak mengalami sesuatu yang seperti itu (di Piala Dunia 2006),”

Bagaimanapun Per Mertesacker akan pensiun akhir musim ini untuk kemudian memimpin Akademi Arsenal. Ia ingin merombak sistem dan meninggalkan warisan lama untuk generasi pesepakbola selanjutnya.