Pagi tadi di Kabupaten Klaten, Megelang, Boyolali dan Slema, Yogyakarta, Jawa Tengah telah terjadi letusan Gunung Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional menilai letusan itu adalah letusan freatik. Agar kita terhindar dari kabar simpang siur, baiknya kita kenali yuk apa letusan freatik itu.

Dari yang berbagai informasi yang dihimpun penulis, letusan freatik terjadi akibat dorongan tekanan uap air lantaran kontak massa air dengan panas di bawah kawah atau magma Gunung Merapi.

Artinya, begitu air kontak langsung dengan panas atau proses pemanasan yang disebut konduksi, air itu akan berubah fase, yang mulanya air menjadi uap. Akibatnya, tekanan lebih tinggi dan ingin keluar. Pada saat keluar itulah yang disebut dengan letusan freatik dan didominasi uap air.

“Jenis letusan ini tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja pada gunungapi aktif. Biasanya letusan hanya berlangsung sesaat,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Letusan freatik ini biasanya disebut sebagai letusan “pembuka”, sebelum adanya letusan magmatik. Letusan magmatik ini yang bisa dibilang sebagai darurat bencana, karena letusan magmatik itu akan meletupkan isi perut gunung.

Proses letusan freatik untuk kemudian bisa berubah menjadi letusan magmatik, seperti terjadi di Gunung Sinabung lima tahun lalu.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pernah mencatat, letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung tiga tahun sejak 2010. Hingga akhirnya letusan besar magmatik Gunung Sinabung muncul pada tahun 2013. Dengan kata lain ada jeda waktu tiga tahun dari letusan freatik ke magmatik. Meski tidak pasti melulu begitu peristiwanya.

Jadi walaupun letusan freatik ini tergolong masih aman, bukan berarti bisa kita anggap sepele ya. Kamu juga bisa baca langkah-langkah antisipasi terkait letusan gunung api di sini.