Mungkin kamu pernah dengar tentang tindakan afirmatif. Kebijakan ini — yang mendukung kaum marjinal untuk mendapatkan kesempatan sukses setara dengan kaum yang lebih berkuasa — berniat untuk menghapuskan diskriminasi. Contohnya adalah pemberian kuota minimum perempuan untuk menjadi anggota DPR.

Dengan kebijakan ini, representasi perempuan di DPR diharapkan terjamin, dan mereka akan membawa aspirasi masyarakat dengan sudut pandang yang sesuai kedudukan sosio-budaya mereka.

Kebijakan ini, tentu, tak bebas kritik. Misalnya, seorang laki-laki bisa saja lebih peka dan paham isu kesetaraan gender daripada seorang perempuan. Lagipula, “Feminis dibentuk, bukan dilahirkan,” cetus bell hooks, penulis feminis termahsyur itu.

Sekarang, bayangkan kamu, seorang temanmu yang lebih tinggi, dan yang lebih pendek, harus menonton sebuah pertandingan dengan mengintip dari pagar yang tinggi. Temanmu yang tinggi tidak punya masalah, sedangkan kamu dan temanmu yang pendek tidak bisa menonton. Di dekatmu ada tiga kotak kayu yang bisa kamu naiki agar bisa menonton. Tentu, kamu tidak akan membagi rata tiga kotak itu. Lebih adil  dan masuk akal jika temanmu yang pendek berdiri di atas dua kotak yang ditumpuk, dan kamu berdiri di atas satu, bukan?

Namun, tidakkah lebih baik jika kalian tidak perlu mengintip dari pagar dan bisa menonton dengan aman di pinggir lapangan?

Bahwa kamu berdiri di atas satu kotak dan temanmu yang pendek di atas dua adalah tindakan afirmatif. Keamanan dan kenyamanan menonton dari lapangan adalah wujud selesainya masalah.

Baca juga:

Pencapaian kesetaraan gender — hilangnya kebutuhan untuk mengintip dari pagar, sebuah penyelesaian masalah — tentu perlu tak hanya perempuan: kembali ke kutipan bell hooks tadi. Peran laki-laki dalam pencapaian kesetaraan gender dibutuhkan.

Namun, bagaimana laki-laki memandang isu-isu gender? Apakah posisi mereka sebagai laki-laki, yang perannya berbeda dengan perempuan dalam tatanan budaya kita, memperkaya atau memperkeruh diskursus ini?

Kamu bisa dapat jawabannya di kegiatan IndonesianYouth Conference 2017 dalam sesi Kesetaraan Gender “Keterlibatan Laki-laki Untuk Kesetaraan Perempuan Indonesia di Masa Depan”, bersama Aquino (aktivis HAM dan kesetaraan gender), Agrita Widyiasari (Co-Founder Sinergi Muda), dan Ausirio Ndolu (Report CNN Indonesia) panelis lainnya ini akan diadakan di Townsquare Cilandak, Jakarta, 16 Desember mendatang.

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talkshow atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar di bidangnya.