Tahukah kamu, bahwa Indonesia diproyeksikan menjadi pemimpin ekonomi dunia keempat? Menurut Pricewaterhouse Coopers, pada 2016, Indonesia adalah kekuatan ekonomi terbesar ke-8 dunia, dan posisi ini akan naik ke peringkat ke-4 pada 2050 — di bawah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Hal ini disebabkan oleh peningkatan produktivitas yang didukung oleh teknologi. Indonesia, bersama negara berkembang lainnya, memang diproyeksikan tumbuh hampir dua kali lipat dari negara maju.

Maka, Frisca Devi Choirina dari Investor Saham Pemula (ISP) pada workshop Financial Planning di Indonesian Youth Conference 2017, menyebut inilah waktunya melek keuangan dan investasi.

“Ini peluang yang perlu kita tangkap dari sekarang. Sekarang ini golden time untuk investasi,” cetusnya.

Menurutnya, sayang jika perkembangan ekonomi yang akan begitu cepat tidak dianggap sebagai momentum untuk belajar dan berinvestasi.

Berinvestasi itu, menurutnya, tidak sulit, apalagi menakutkan. “Nggak se-eksklusif zaman saya dulu mulai investasi, apalagi zaman orang tua saya,” jelasnya.

Ia menyebut bahwa dengan modal seratus ribu pun calon investor sudah bisa berinvestasi. Calon investor bisa mempelajari metode investasi yang cocok dan legal di situs web Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, ada pula buku #YukBelajarSaham, yang merupakan kolaborasi dari ISP.

“Investasi itu nggak menyeramkan, yang seram itu investasi bodong!” tambahnya.

Ia juga membagi kiat agar tak termakan iming-iming investasi ilegal itu: tetap skeptis dengan keuntungan besar yang ditawarkan, dan tentunya cek situs web OJK.

Calon investor juga tak perlu khawatir jika investasi itu haram. Selain sudah dinyatakan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), ada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang merupakan daftar seluruh saham syariah yang tercatat di di Bursa Efek Indonesia. “Daftar ini pun semakin berkembang,” tukas Frisca.

Momentum perkembangan ekonomi ini cocok untuk mencapai kebebasan finansial. “Suatu keadaan di mana uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja mencari uang,” jelasnya. “Ya, mungkin nanti 2050 kita kipas-kipasan pakai Dolar, bukan kertas saja.”