Jutaan perangkat elektronik dibuat, dijual, dan dibuang tiap tahunnya – StEP Initiative pada 2013 memproyeksikan sampah elektronik akan mencapai 65,4 juta ton pada 2017, atau sekitar 8,6 kilogram per penduduk bumi. Siklus konsumsi yang cepat ini membawa keuntungan jangka pendek yang amat besar bagi produsen perangkat elektronik. Namun, kerusakan yang dihasilkan proses ini terlalu mahal bagi bumi, menurut The Guide to Greener Electronics yang dipublikasikan oleh Greenpeace Amerika Serikat.

Greenpeace menganalisis data 17 perusahaan yang tersedia untuk publik tentang tiga area terkait desain produk dan manajemen rantai pasokan di sektor elektronik: energi, konsumsi sumber daya, dan penggunaan bahan kimia.

17 perusahaan yang dilaporkan dalam guide ini adalah Apple, Fairphone, Dell, Hewlett-Packard (HP), Microsoft, Google, LG, Asus, Google, Sony, Acer, Lenovo, Huawei, Samsung, Amazon, Xiaomi, Vivo, dan Oppo.

Energi

Makin canggih dan rumitnya sebuah perangkat elektronik bisa berarti bahwa perangkat itu makin hemat energi – terutama bagi perangkat-perangkat yang portabel. Namun, kerumitan yang meningkat juga berarti lebih banyak energi yang diperlukan untuk memproduksi perangkat tersebut — sekitar 70 hingga 80 persen penggunaan energi terjadi saat proses manufaktur. Kemudian, mayoritas perangkat elektronik dimanufaktur di Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Vietnam, yang masih banyak mengandalkan energi ‘kotor’ seperti batubara.

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa perusahaan telah memimpin komitmen untuk melakukan transisi ke energi berkelanjutan. Contohnya adalah Apple, yang pada 2015  berjanji hanya memakai energi bersih di tiap rantai pasokannya, dan telah berhasil membuat 14 pemasoknya berkomitmen memakai 100% energi bersih dalam waktu dekat. Selain itu, ada Hewlett-Packard, yang berhasil menurunkan emisi gas rumah kacanya sebesar 21 persen sejak 2010, dan 93 persen pemasoknya telah memiliki target pengurangan emisi gas rumah kaca.

Di lain sisi ada usaha advokasi, seperti yang dilakukan beberapa pimpinan perusahaan-perusahaan IT yang menentang keras keputusan Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris.

Komitmen dan advokasi dari perusahaan-perusahaan ini dianggap sangat penting, mengingat Samsung –produsen ponsel pintar terbesar dan salah satu produsen onderdil gawai terbesar– tidak memiliki komitmen kuat untuk mengurangi emisi karbonnya, di samping Huawei dan Amazon yang tidak transparan dalam penggunaan energinya.

Berikut adalah rapor ke-17 perusahaan tersebut dalam bidang energi:

Penilaian di sektor energi menurut Greenpeace

kredit: Guide to Greener Electronics 2017 / Greenpeace

Konsumsi sumber daya

Menurut iFixit, sebuah perusahaan perbaikan elektronik di Amerika Serikat, terdapat tren yang mengkhawatirkan terkait daya tahan gawai; banyak perusahaan yang memproduksi perangkat-perangkat yang makin sulit diperbaiki.

Pada Juni 2017, Greenpeace dan iFixit melakukan survei lebih dari 40 gawai terlaris, dan menemukan bahwa nyaris 70 persennya sulit atau tidak bisa diganti layar dan baterainya – dua komponen yang paling sering rusak. Hal ini membuat konsumen harus sering membeli perangkat baru.

Padahal, untuk mendapatkan seratus gram mineral yang diperlukan untuk produksi ponsel pintar, 34 kilogram batu perlu ditambang: gawai berumur pendek → banyaknya permintaan gadget baru = produksi gawai semakin banyak mengambil sumber daya.

Maka, desain gawai yang mudah diperbaiki, seperti yang banyak dilakukan oleh Dell, HP, dan Fairphone, sangat dianjurkan. Selain itu, adanya program daur ulang yang mudah diakses juga penting untuk mengurangi sampah elektronik dan intensitas penambangan mineral.

Berikut adalah penilaian performa 17 perusahaan tersebut dalam bidang konsumsi sumber daya:

Penilaian dalam konsumsi sumber daya oleh Greenpeace

kredit: Guide to Greener Electronics 2017 / Greenpeace

Bahan kimia

Penggunaan zat kimia berbahaya dalam perangkat elektronik, selain berisiko bagi pekerja –kadang termasuk anak-anak– yang membuat dan mendaur ulang, juga dapat mencemari lingkungan sekitar di mana tempat produksi atau daur ulang itu dilakukan.

Bahan kimia berbahaya yang menjadi fokus laporan ini adalah polivinyl chloride (PVC) dan brominated flame retardants (BFRs) yang mengeluarkan zat berbahaya saat dibakar; hal ini mengancam kesehatan pekerja di fasilitas daur ulang yang belum cukup canggih.

Komitmen untuk tidak memakai PVC dan BFRs sudah dibuat beberapa perusahaan elektronik sekitar tahun 2009-2010. Namun, pada 2017, baru Google dan Apple yang tidak memakai sedikitpun BFRs dan PVC.

Sedangkan Amazon, Oppo, Vivo, dan Xiaomi tidak memiliki komitmen untuk menghentikan penggunaan zat kimia berbahaya. Perusahaan-perusahaan lain dalam laporan itu sudah menghentikan sebagian penggunaan bahan kimia berbahaya.

Berikut nilai 17 perusahaan terlapor dalam penggunaan bahan kimia:

Penilaian dalam penggunaan bahan kimia berbahaya

kredit: Guide to Greener Electronics 2017 / Greenpeace

Apa yang perlu kita lakukan?

Dalam laporan tersebut, Greenpeace memberikan beberapa saran seperti: memilih produk yang dibuat dengan baik dan mampu bertahan lama serta mudah diperbaiki., menggunakan gawai selama masih berfungsi.

Kemudian sebisa mungkin memperbaiki gawai yang rusak, ketimbang harus membeli baru, dan bila perlu mendaur ulang kembali.

Terakhir, suarakan perlunya produksi gadget yang ramah lingkungan. Hal ini semakin genting, mengetahui bahwa ada Apple dan Sony — perusahaan-perusahaan besar — yang memblokir regulasi yang mewajibkan peningkatan standar ekologis dalam produksi perangkat elektronik.

Sumber: Guide to Greener Electronics 2017 oleh Greenpeace.