“Menurut riset Kominfo, 132,7 juta warga Indonesia terkoneksi dengan internet, mayoritasnya berusia 16-36 tahun. Dan kebanyakan penggunaan internet buat buka medsos,” jelas Anggis Dinda, kepala Humas Youth of Indonesia, membuka presentasinya di sesi diskusi Social Media x Hoax di Indonesian Youth Conference 2017.

Karena itu, menurutnya, peran anak muda sangat penting dalam melawan hoax. Kategori demografi yang merupakan pemakai internet dan media sosial terbanyak– menjadi salah satu faktor penyebaran hoax begitu masif — membuat anak muda menjadi pembuat perubahan yang bisa ber-magnitude besar.

“Selain tidak konsumsi hoax, anak muda perlu inspire untuk menyebar konten positif,” cetusnya. “Sekalipun nggak pede mengeluarkan konten positif, ya, jangan follow yang negatif.”

Memang, melawan penyebaran hoax itu tidak mudah. “Kita di sini mudah memberi nasihat, tapi praktiknya susah juga,” ujar Wicaksono, pegiat media sosial atau lebih akrab disapa Ndoro Kakung. “Contohnya, hoax yang paling besar: bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Sampai Saddam Husein turun nggak ketemu senjata itu. Memang hoax, tapi masih banyak yang percaya.”

Hoax bisa sangat berbahaya. Ndoro Kakung menceritakan sebuah kejadian di India, di mana ada berita yang menyebut adanya pemerkosa yang berkulit putih dan berambut keriting yang menarget anak-anak. “Hal ini membuat orang-orang di sana, yang kurang pendidikan, sangat khawatir. Kemudian, ada pendatang yang tersesat dengan ciri-ciri tersebut. Ia dihajar dan dibunuh, dan videonya viral. Sejak itu orang cemas dengan hoax, karena ia bisa membunuh.”

Agar tidak mengonsumsi dan menyebarkan konten hoax, semua narasumber menegaskan harusnya riset dan verifikasi. Intinya, Ndoro Kakung mencetuskan: “Anggap apa yang di internet tidak benar sampai terbukti sebaliknya.”

Selain itu, demi memerangi konten hoax, diperlukan pula peran sumber berita yang kredibel. “Namun, konsumsi hoax ini sekarang lebih besar dari berita yang berasal dari media yang verified,” sebut Luthfi Kurniawan, spesialis media sosial Kompas.com.

Untuk menanggulangi ini, Kompas.com sempat bereksperimen dengan membuat berita organik,asli, dan kredibel. Hanya saja menggunakan judul berita clickbait (seperti gaya judul berita hoax).

“Hasilnya, engagement naik 1,5 kali. Redaksi sendiri kaget; nggak clickbait nggak dibaca, pakai clickbait harga diri turun.”

Maka, kembali ke argumen Anggis: inilah mengapa anak muda harus mendukung konten positif —  seperti berita yang kredibel.

Menghentikan aliran hoax memang bukan urusan anak muda saja: “Pemerintah terpenting, mereka bisa buat regulasi, namun nggak cukup, karena mereka nggak selalu tahu keadaan masyarakat. Penegak hukum: polisi punya cyber crime division, tapi mereka nggak bisa pegang semuanya,” jelas Anggis.

Di sinilah peran anak muda sangat dibutuhkan: “Masyarakat juga penting, dan yang paling banyak anak muda, berarti mereka penting banget.”