Kesetaraan gender merupakan isu yang sudah ada sejak abad ke-17 lalu. Namun, hingga saat ini, isu tersebut masih jauh dari kata selesai. Karenanya IndonesianYouth Conference 2017 mencoba memberikan solusinya lewat sesi women empowerment, yang diisi oleh pembicara Aquino (Human Rights and Gender Equality Activist) dan Agrita Widiasari (Co-Founder Sinergi Muda) dengan moderator Ausirio Ndolu (reporter CNN Indonesia), di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Di awal, berdasarakan topik yang diangkat yakni “Keterlibatan Laki-laki Untuk Kesetaraan Perempuan Indonesia di Masa Depan”, Aquino menjelaskan untuk mencapai kesetaraan gender kita tidak hanya perempuan saja yang harus berusaha tetapi juga perlu adanya peran laki-laki.

“Dulu wanita sempat setara dengan laki-laki pada masanya, masa di mana mereka berdua saling berburu bersama namun seiring dengan berjalan nya waktu terjadilah domestikasi pada perempuan,” kata Aquino.

Menurut Aquino, permasalahan kesetaraan gender perlu kerja sama semua pihak, khususnya secara struktural. Bila orang yang terkena gangguan mental pergi ke psikolog, tidak sama dengan masalah kesetaraan gender.

“Isu ini perlu koordinasi secara terstruktur dimana kita tau bahwa terkait struktur maka kita akan bersinggungan dengan regulasi negara. Perlu peran pemerintah,” ujarnya.

Sedangkan konsep kesetaraan gender menurut Agrita yaitu, bahwa kesetaraan gender bukan untuk mengalahkan satu sama lain, tapi untuk mendapatkan akses yang sama. Banyaknya stereotype negatif yang beredar di masyarakat.

Agrita pun memberikan kiat untuk keluar dari stereotype negatif tersebut. Pertama, katanya, masyarakat harus berpikir ulang. Beripikir lagi ketika berkomentar. Dan sama sekali enggak berhak untuk komentar tentang selera seseorang.

“Misal, seorang pria yang mendengarkan lagu melow, ‘lemah banget si lo’. Nah, please banget itu dipikirkan lagi,” jelasnya.

Yang kedua, dikatakan Agrita, berhenti melabelkan tugas berdasarkan gender: mana tugas laki-laki dan mana tugas perempuan. Dia pun menyarankan, semua tugas untuk dilakukan bareng-bareng untuk mengakhiri gap dari keduanya.

“Ketiga, gunakan media sosial yang kita punya dengan sebaik-baiknya, untuk mengubah sedikit demi sedikit cara kita bersikap dan berpikir tentang gender. Bisa melalui post di Twitter, Instagram atau blog pribadi,” sebutnya.

Maka dari itu kita tidak bisa maju sendirian kita perlu melibatkan laki-laki juga dalam mencapai kesetaraan gender di Indonesia. Salah satu cara untuk melawan stereotype negatif yang ada di masyarakat tentang perempuan adalah kita harus tetap speak-up, kita harus lawan dan buktikan bahwa perempuan tidak selama yang dibayangkan. Perempuan juga memiliki hak yang sama.

Harapannya kita sebagai anak muda Indonesia yang beruntung dalam mengakses informasi terutama informasi terkait kesetaraan gender bisa melanjutkan secara estafet informasi yang kita dapat kepada teman-teman lainnya yang kurang beruntung agar teman-teman kita diluar sana juga bisa mengetahui. Inilah kekuatan kita sebagai anak muda di generasi milenial yang bisa berbagi informasi dengan berbagai akses yang ada, sebagai perpanjangan tangan.

Sebagaimana kita tahu bahwa kebanyakan isu yang beredar saat ini di internet adalah hoax dan Indonesia lebih sering sebagai mengonsumsi, bukan pemberi Informasi.