Wisdom dan wise dari orangtua sangatlah penting anak muda generasi milenial. Sekeren-kerennya mesin, tidak ada yang pernah bisa menggantikan manusia, karena manusia memiliki wisdom and wise. Begitu pun dengan orangtua, mereka mungkin tidak mengenal atau memahami kemajuan teknologi sekarang, namun mereka memiliki wisdom dan wise. Dan itu yang belum kita miliki sebagai anak muda. Put your ego off and try to listen your parents.

Anak dan orangtua kerap memiliki kesalahpahaman tentang peran di dalam keluarga. Anak sering sekali ingin menonjolkan perannya, namun terkadang orangtua tidak menyadarinya. Lalu bagaimana caranya agar orang tua kita mau mendengarkan pendapat kita?

Dhea Seto, Pelaku Seni Tari dan Peran, saat menjadi pembicara di IndonesianYouth Conference 2017 mengatakan sebagai anak harus menginisiasi conversation atau diskusi terlebih dahulu. Caranya, bisa dengan melibatkan pihak ketiga seperti lingkungan sekitar, oom, tante, atau nenek untuk membuka forum diskusi dengan orang tua kita.

“Cobalah berhenti untuk selalu mengeluh dan menyalahkan orang tua kita,” katanya.

Perempuan 19 tahun ini juga menjelaskan setidaknya dua penyebab pendapat anak kurang didengar oleh orangtuanya. Pertama, katanya, si anak menyampaikan pendapatnya dengan cara kurang pantas. Kedua, anak terlalu memikirkan haknya sebagai anak dan lupa membuka telinga untuk melihat hak orangtua dan mendengerkan mereka.

“Kita masih termasuk orang yang sulit mengungkapkan atau mengekspresikan pendapat. Jadi, cobalah untuk tidak sepenuhnya menyalahkan orang tua kita,” sebut Dhea yang juga anak dari Seto Mulyadi itu.

Vivid Argarini di IndonesianYouth Conference 2017, Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017)/dokumentasi IYC 2017.

Sementara Motivator Pemuda, Vivid Argarini, punya kiat untuk mengatasi hal tersebut agar tidak terus-menerus terjadi di dalam keluarga. Menurutnya, kalau anak muda kesulitan menyampaikan pendapat-pendapatnya kepada orangtua, maka tuliskan saja. Dan kalau tidak bisa menuliskan, maka tunjukkan.

“Cara tersebut sangat aplikatif terutama bagi teman-teman yang memiliki kepribadian introvert. Bila teman-teman merasa tidak percaya diri untuk menyampaikan pendapat, teman-teman bisa meluapkan pendapat kalian melalui media. Banyak sekali media sosial yang bisa kita gunakan seperti, surel, WhatsApp, atau Line. Lalu pesan tersebut kita kirim ke orang tua kita,” katanya di IndonesianYouth Conference 2017, Sabtu (16/12/2017).

alu bagaimana jika orangtua kita tidak memiliki media sosial? Kita bisa meluapkan pendapat pada secarik kertas, voice recorder, atau video recorder.

Menurut Vivid, anak muda sekarang harus bisa menjadi sahabat bagi orangtuanya, dengan belajar tentang tanggung jawabnya masing-masing. “Kalau mau menyanggah keputusan orangtua, kita harus ada bahannya (data) yang terpercaya. Jadi tidak cuma sekadar alasan ‘suka’,” ungkapnya.

Semuanya butuh proses, jika kita tetap konsisten dan yakin dengan usaha kita lambat laun orang tua kita akan mengerti apa maksud kita. Just show it.

Sebagai anak muda pada generasi milenial yang berpendidikan sudah bukan saatnya lagi kita berkeluh kesah tentang keadaan keluarga kita, kita harus lebih proaktif. Kita bisa menjadikan contoh nilai-nilai positif yang ada dikeluarga kita dan menjadikan bahan pelajaran nilai-nilai negatif yang ada di keluarga kita sebagai bahan evaluasi ketika kita membangun
keluarga nantinya.

“Kita tidak bisa memilih dari keluarga siapa kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih, keluarga seperti apa yang akan kita buat,” pungkasnya.