SIARAN PERS – Kehadiran internet memberikan dampak positif bagi anak-anak karena mereka bisa menggali berbagai ilmu pengetahuan dengan mudah dan cepat. Namun dari hasil penelitian ECPAT Indonesia, di 6 Kabupaten/Kota pada tahun 2017 ditemukan fakta menyimpang, di mana anak-anak terpapar pornografi melalui telepon pintar.

Penelitian lainnya juga menemukan berbagai fakta di mana sebagian anak yang mengakses pornografi ini ternyata melakukan kekerasan seksual pada anak lainnya. Penelitian itu berlangsung di lima Kabupaten/Kota di Garut Jawa Barat, Karang Asem Bali, Gunung Kidul Yogyakarta, Nias Selatan Sumatera Utara, dan Kota Bukit Tinggi Sumatera Barat.

Survei lainnya yang cukup mengejutkan dilakukan oleh situs porno PornHub yang menemukan, bahwa tahun 2015 dan 2016 Indonesia adalah negara peringkat kedua pengakses pornografi. Peringkat pertama ditempati oleh India. Dari jumlah itu, sekitar 74 persen generasi muda, dan sisanya generasi tua.

Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna di Indonesia tengah mencapai 132 juta orang. Dan dari jumlah ini, anak-anak berusia 10-14 tahun yang mengakses internet mencapai 768 ribu, sementara yang berusia 15-19 yang mengakses internet mencapai 12,5 juta. Belum lagi survei KPAI terhadap 45 ribu pelajar SMP dan SMA di 12 kota terdapat 97 persen yang mengakses konten pornografi.

Dengan gamabran yang disebutkan tadi, maka situasi anak-anak yang mengakses konten pornografi sudah sangat mengkhawatirkan, dengan kata lain sudah terjadi situasi GENTING.

Kegentingan situasi itu dapat diidentifikasi melalui tiga hal, yaitu: pertama, telah terjadi penyimpangan penggunaan internet oleh anak-anak ke arah narrative content.

“Kedua, adanya tren orang dewasa yang memanfaatkan anak-anak untuk tujuan seksual, contohnya maraknya tipu daya anak untuk melakukan live streaming secara telanjang. Dan ketiga, ada tindakan memperjualbelikan anak untuk tujuan komersial melalui internet,” demikian keterangan tertulis ECPAT Indonesia yang diterima IndonesianYouth.org.