Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar kata catcalling? “Miaow“, “meong“, atau “pusss”? Sama sekali bukan itu. Memang masih sebagian orang, mungkin kebanyakan, belum akrab dengan istilah catcalling. Catcalling bukanlah seekor kucing, melainkan salah satu bentuk pelecehan seksual.

Berdasarkan Oxford Dictionary, catcalling didefinisikan sebagai siulan, panggilan, dan komentar yang bersifat seksual dan tidak diinginkan oleh laki-laki terhadap perempuan yang lewat. Sedangkan secara lebih luas, street harassment adalah bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat publik.

“Mau ke mana, cantik?”, atau “Senyum, dong!”, atau juga “Abang antarkan yuk, neng!” itu adalah jenis-jenis catcalling yang biasa kita dengar.

Kejadian seperti ini dianggap “lumrah” oleh banyak orang karena itu hanyalah sebuah kata-kata dan sebagian menganggap itu merupakan sebuah pujian. Catcalling bukanlah sebuah pujian. Justru, kata-kata yang dilontarkan pelaku merupakan kata-kata yang lebih kea rah intimidasi dan terkadang memiliki maksud dan tujuan tertentu di balik kata-kata tersebut.

Korban catcalling pada umumnya adalah perempuan dan terjadi di tempat umum. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan perasaan tidak aman saat kaum hawa berpergian. Tidak sedikit yang merasa takut bahkan trauma untuk pergi dan jalan sendirian di tempat umum. Padahal, semua masyarakat memiliki hak yang sama untuk bisa merasa aman dan nyaman.

Pelecehan seksual seperti catcalling ini masih dianggap sebagai hal yang ringan oleh masyarakat karena pelecehan ini dilakukan hanya secara lisan. Namun, hal ini tetaplah bentuk pelecehan seksual. Sampai saat ini, tidak ada peraturan perundang-undagan mengenai catcall. Lagi pula, untuk mengurusnya dan bukti kuat terjadinya catcall agak sulit untuk dibawa ke masalah hukum. Catcall masih jauh dari hukum selama tidak ke arah fisik. Tapi, yang mau ditekankan adalah bagaimana caranya untuk setidaknya menghentikan atau membuat pelaku sadar akan catcall ini.

Setidaknya, pelaku bisa lebih menghargai kaum perempuan.

Pada akhirnya, hal seperti ini bermuara kembali pada ketimpangan gender yang diakibatkan oleh kuatnya garis patriarki di dalam masyarakat. Perempuan diperlakukan sebagai objek. Perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk mewujudkan kebebasan berekspresi dalam kehidupan kesehariannya. Termasuk dalam hal berpakaian. Sangat kurang tepat bila mengaitkan peristiwa catcalling dengan menyalahkan pakaian yang dikenakan perempuan karena mau berpakaian seperti apapun, perempuan tetap akan rentan menjadi korban catcalling dari lingkungan di sekitarnya.

Apapun motivasi pelaku terhadap korban, perbuatan catcalling tetap harus diminimalisir agar perempuan dapat memiliki rasa aman dalam menunjukkan kebebasan berekspresi dan juga tidak menjadi rentan terhadap street harasshment lainnya.

Kunci utamanya adalah saling menghormati satu sama lain dan cukup memberikan pemahaman bahwa setiap manusia berhak mendapatkan rasa aman dan nyaman siapapun dan dimanapun mereka.

sumber gambar: flickr.com/Logan Campbell


Tulisan di atas merupakan opini penulis. IndonesianYouth.org tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected]

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!