IndonesianYouth Conference tahun 2017 yang digelar di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (12/16/2017), menyajikan berbagai rangkaian acara, salah satunya sesi seminar yang mengangkat tema tentang membangun citra nusa khas milenial yang diisi oleh Karina Soerja (Professional Announcer dan Creative Writer) Abie Abdillah (Founder Studio Hiji) dan Akhyari Hananto (Founder Good News from Indonesia). Ketiganya kompak berbicara peran anak muda dalam nation branding.

Setiap pembicara memiliki pendapatnya masing-masing sesuai bidang yang mereka tekuni. Akhyari, misalnya, mengatakan selama ini masyarakat Indonesia selalu dijejali dengan informasi bahwa Indonesia adalah negara yang internetnya paling lelet dan hal-hal buruk lainnya. Padahal, kata Akhyari, banyak yang tidak mengetahui keterlibatan Indonesia di kancah dunia.

“Kita harus mempunyai doktrin bahwa kita adalah bangsa besar. Mempunyai banyak anak muda berpotensi. Kita harus bangga menjadi bagian dari bangsa besar ini. Serta kita harus dapat menyebarkan berita baik ke seluruh Indonesia dan ke global agar ke depannya kita menjadi generasi yang optimis,” jelasnya.

Lain halnya dengan Abi, yang menggeluti bidang industri rotan. Nation branding menurutnya adalah bagaimana ia mampu membuat desain mebel yang menarik dengan berbahan rotan yang menghadirkan nuansa modern sesuai selera pasar dan dapat menembus kancah internasional.

“Mungkin karena saya latar belakangnya desain produk jadi yang saya lakukan adalah fokus bagaimana produk yang saya buat bisa dikenal dan diapresiasi bukan hanya lokal, tapi internasional,” ungkapnya. “Yang saya lakukan adalah mengikuti kompetensi.”

Perlu kalian ketahui bahwa 80 persen bahan baku rotan di dunia itu berada di Indonesia, lho. Untuk itu, Abie sangat fokus bagaimana ia dapat menjual suatu produk dengan memakai potensi Indonesia secara maksimal.

Kemudian dirinya menuturkan, anak muda yang ingin turut berpartisipasi membangun nation branding bisa dengan cara yang sederhana. Misalnya, bergabung dengan komunitas.

Ia mencontohkan, melalui komunitas dirinya bisa memiliki jaringan luas, terutama sesama desainer. Dari situ bisa ada workshop untuk melatih desainer-desainer muda.

“Menurut saya talenta mesti dilatih, kalau tidak kemampuannya bisa jadi punah,” ucapnya.

Sedangkan menurut Karina, atau akrab disapa Kay, menceritakan bagaimana dirinya selalu memegang teguh pesan ayahnya, bahwa ke mana pun ia berkelana harus selalu menjaga nama dan citra baik Indonesia.

Karina sendiri, selain sebagai Professional Announcer dan Creative Writer, ia adalah penari yang sudah keliling Asia dan Eropa.

“Jadi saya harus bisa menjaga sikap dalam setiap perbuatannya, karena apapun yang saya lakukan ketika sedang berada di luar, sesungguhnya itulah cerminan dari bangsa kita, yaitu Indonesia. Sebisa mungkin harus dapat menjaga nama baik Indonesia,” katanya.

Karin pun berpesan, apapun yang akan dilakukan, apapun yang akan diunggah di media sosial, harus dipikirkan matang-matang sebelumnya dan bertanya kepada diri sendiri “penting nggak sih untuk di post?”. Karena menurutnya, apapun yang dilakukan, selain sebagai bentuk branding terhadap diri sendiri, juga merupakan cerminan dari bangsa itu sendiri.

When you do something, do it right. When you do something, do the reseach. Yang terpenting adalah berkaryalah yang terbaik dari hati,” pungkasnya.