Tahun ini IndonesianYouth Conference (IYC) 2017 yang diadakan di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017), menyajikan beragam tema seru untuk didiskusikan dengan berbagai pembicara, yang tentunya menginspirasi. Salah satunya, Disabilitas.

Pada sesi ini dibahas bahwa sebenarnya tidak ada pembeda antara anak muda dengan/atau tanpa disabilitas. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal yang sama. Seperti apa yang diceritakan Annisa Rahmania atau Nia.

Sehari-hari dia mesti menggunakan bahasa isyarat ketika berkomunikasi sehari-hari. Karena keterbatasannya itu dia sempat bersekolah di sekolah luar biasa (SLB).

Akan tetapi, sejak SMP hingga kuliah dia memutuskan untuk bersekolah di sekolah umum. Dia, katanya, sadar jika dia tetap melanjutkan bersekolah di sekolah berkebutuhan khusus maka tingkat intelegensinya dapat menurun, karena hal inilah yang terjadi pada teman-temannya yang bersekolah di SLB.

“Nia ingin membuktikan bahwa dengan keterbatasan, tidak lantas kesempatan untuk menempuh pendidikan umum menjadi berkurang,” katanya.

Nia pun dapat membuktikan bahwa dia dapat menyelesaikan studi perguruan tingginya dengan IPK 3,49. Hal tersebut membuat keluarga dan dosen-dosennya yang sempat meremehkannya, berbalik menjadi bangga dan percaya dengan kemampuan Nia.

Nia juga menuturkan bahwa ia menyukai kata inklusif, menurutnya kata tersebut mempunyai arti bukan hanya sekedar menerima disabilitas, “Tapi bagaimana caranya melibatkan disabilitas di masyarakat umum untuk kemudian bersama-sama membangun kehidupan yang lebih bermanfaat untuk sesama,” ujarnya.

Di sisi lain, mahasiswa Psikologi UGM, Irvandias Sanjaya, yang juga merupakan CEO Design for Dream bercerita bagaimana awal mula ia membuat Design for Dream (DFD), sebuah media dengan kosep menyatukan sociopreneurship dan crowdfunding.

DFD memiliki tujuan untuk mendukung dan membuat para disabilitas yang pada umumnya tinggal di bawah garis kemiskinan untuk dapat lebih produktif lagi. Kegiatan tersebut diwujudkan melalui adanya penjualan produk yang dihasilkan dari para disabilitas tersebut.

“Disabilitas ini memiliki karya yang kualitasnya tidak kalah baik dengan orang lain tanpa disabilitas, namun pemasarannya belum dikelola secara maksimal. Untuk itulah DFD hadir untuk mewujudkan mimpi-mimpi para difabel,” kata pria yang akrab disapa Dias itu.

Keterlibatan kita dengan para disabilitas dapat menciptakan potensi yang inklusif. Karena pada dasarnya kita ini sebuah keluarga, dan kita juga harus melihat segala sesuatunya dengan kacamata positif.

Dan sesungguhnya tidak ada pembeda anak muda dengan/atau tanpa disabilitas.