Tepat hari ini 116 tahun yang lalu, Presiden pertama kita, Presiden Soekarno, lahir. Namun di mana beliau lahir kerap menjadi perdebatan. Bahkan, pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di momen Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni dua tahun lalu salah menyebutkan tempat lahir Soekarno.

“Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar,” kata Jokowi dalam pidatonya.

Presiden Jokowi menyebut Blitar sebagai tempat lahirnya Soekarno. Tentu, keliru. Penyusun naskah pidato Jokowi saat itu, Sukardi Rinakit, pun telah mengakui kekeliruannya dan langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada publik.

“Kesalahan tersebut sepenuhnya adalah kekeliruan saya dan menjadi tanggung jawab saya,” ujar Sukardi.

Lalu di mana sebenarnya Soekarno lahir?

Seorang arsitek dan juga pemerhati sejarah, Bambang Eryudhawan, seperti dikutip dari Historia.id memiliki bukti otentik perihal di mana lahirnya putra dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu.

Bambang menunjukkan buku induk Technische Hogeschool (TH) –sebuah sekolah tinggi yang cikal bakal Institut Teknologi Bandung– yang memuat data Soekarno semasa kuliah di sana. Di dalam buku itu disebutkan (Raden) Soekarno lahir di Surabaya 6 Juni 1902, bukan 1901.

Secara otentik dipastikan Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan, tahun 1902, memang sengaja dibuat seperti itu di mana menjadi kebiasaan orang tua dulu untuk memudakan atau menuakan umur sang anak guna masuk ke sekolah.

“Buku ini mencatat semua nama mahasiswa baik yang lulus maupun yang tidak lulus dari TH. Bahkan apa pekerjaan mereka setelah lulus pun masuk dalam catatan,” kata Bambang.

Soekarno melanjutkan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1921, setelah dua bulan dia meninggalkan kuliah, tetapi pada tahun 1922 mendaftar kembali dan tamat pada tahun 1926.

Pada akhirnya Bung Karno pun menjadi presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai arsitek alumni dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), sekaligus yang pertama penggagas peci hitam di Indonesia.

Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams, seperti dikutipĀ  ide peci hitam mulanya dilatarbelakangi pembicaraan pernyataan Soekarno yang menyebut kaum intelejensia selalu menjauhkan diri dari rakyat jawa, khususnya yang menggunakan tutup kepala atau blangkon.

Keinginan Soekarno mempopulerkan peci hitam sebagai simbol ke-Indonesia-an tak menemui jalan mulus, ia ragu. Meski ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan bermonolog:

“Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?”

“Aku seorang pemimpin.”

“Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat, sekarang!”

Dan, akhirnya, Soekarno pun memecah kesunyian dengan mengatakan bahwa bangsa ini butuh sebuah simbol kepribadian.

“Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia. Merdeka!” katanya.

Demikianlah sedikit dari begitu banyaknya kisah tentang Presiden Soekarno. Akhir kata, selamat ulang tahun, Bung Karno!

sumber: Historia.id