Departemen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui situs resminya menguraikan analisis SWOT untuk permasalahan dan tantangan dalam pengembangan museum di Indonesia.

Dari sisi Strength, di Indonesia saat ini terdapat lebih dari 300 museum, meski jumlah ini masih terbilang sedikit ketimbang negara-negara lain. Namun pertumbuhan “terbantu” dengan adanya museum milik swasta.

Selain itu juga jumlah dan keragaman koleksi dan dukungan anggaran negara yang memadai sejak dicanangkannya beberapa program untuk mendukung museum. Di antaranya adalah program tahun kunjungan museum 2010 yang dicanangkan di 30 Desember 2009 serta Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM).

Akan tetapi bila dilihat dari sisi Weakness, museum masih jauh dari kata akrab. Selain itu, “peran pemerintah daerah juga dinilai kurang perhatian terhadap pengelolaan museum,” demikian yang tertulis dalam situs tersebut.

Padahal, dalam uraian Opportunity, organisasi masyarakat yang peduli dengan museum tengah mengalami perkembangan, ditambah adanya pengembangan program studi di Perguruan Tinggi yang memiliki program pendidikan Museologi.

Baca juga:

Lalu pada di sisi Threat, Kemdikbud menilai belum adanya penetapan prioritas dalam penataan database museum yang seharusnya menjadi sistem mendasar untuk melaksanakan kegiatan dasar museum dan pengembangannya.

Melihat uraian tadi dan fakta bahwa Indonesia kaya akan peninggalan leluhur, museum rupanya belum menjadi destinasi favorit wisata sejarah bagi masyarakat, terutama anak muda di Indonesia.

Lalu bagaimana cara mengembalikan semangat mengenal sejarah lewat museum?

Di IndonesianYouth COnference 2017 x KIBAR yang akan berlangsung di Townsquare, Cilandak, Jakarta, 16 Desember mendatang, melalui sesi workshop creative thinking, bersama Sejarawan Asep Kambali dan pembicara lainnya, kita akan menggali solusi terbaik yang anak muda tawarkan untuk mengembalikan museum Indonesia sebagai media penting dalam pembelajaran budaya dan pengenalan akan pengalaman negara kita sendiri.

Design thinking merupakan strategi berpikir dengan membuat kerangka berpikir yang tepat dalam memecahkan suatu proses masalah. Metode ini sangat baik jika dikuasai anak muda untuk dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. . Di workshop Sejarah x Design Thinking 101 ini, IYC akan mengajak kamu untuk belajar tentang Design Thinking dan praktik langsung penggunannya terhadap isu pendidikan sejarah di Indonesia. . Kita akan menggali solusi terbaik yang anak muda tawarkan dalam mengembalikan museum Indonesia sebagai media penting dalam pembelajaran sejarah, budaya dan pengenalan akan pengalaman negara kita sendiri. . Segera beli tiketnya di indonesianyouth.id yaa!😊 . . . . . . #IYC #IndonesianYouth #IndonesianYouthConference #Youth #YouthConference #IYCatCitos #KamiMasaDepan

A post shared by IndonesianYouth (@indonesianyouth) on

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talkshow atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar di bidangnya.