Milenial dinilai sebagai generasi paling produktif saat ini, dan digadang-gadang sebagai generasi penentu masa depan. Namun harapan tak selamanya terwujud nyata, generasi milenial ternyata dihadapi dengan persoalan keuangan paling menakutkan dari generasi-generasi sebelumnya.

Sebagai contoh, sebuah sensus di Amerika kepada dewasa muda berusia 24 sampai 35 tahun didapati hanya separuh yang bisa memiliki rumah sendiri. Dan, 1 dari 5 milenial hidup dalam kemiskinan. Kemudian dari riset NerdWallet Analysis, banyak dari milenial di Amerika tidak bisa pensiun sampai berusia 75 tahun.

Apa yang terjadi di Amerika memang tak bisa menjadi representasi di Indonesia, meski kurang lebih begitu gambarannya.

Sebenarnya, perbedaan milenial dengan generasi-generasi sebelumnya tidaklah berbeda jauh. Hanya saja, dalam soal pendapatan milenial cenderung stagnan. Ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu, namun yang pasti disebabkan oleh krisis global dan berbuntut pada ketimpangan dan pengangguran. Selain itu persoalan regulasi yang semakin ketat demi efisiensi anggaran. Misalnya, urusan tunjangan.

“Mereka tidak bisa disebut generasi beruntung. Sebab dihadapi kondisi pasar yang lebih menantang dan prospek peningkatan kesejahteraan yang terbatas,” ungkap Fayd’herbe, mengutip Deutsche Welle.

Baca juga:

Sedangkan, di sisi lain, harga-harga properti terus melonjak tajam. Dan berdampak pada ketidakmampuan milenial untuk memiliki rumah sendiri dari hasil jerih payahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Bank, harga properti di Indonesia saat ini lebih ‘akrab’ untuk penduduk dengan penghasilan Rp 12 juta ke atas.

Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung menyoroti kemampuan membeli rumah untuk generasi milenial atau generasi muda di Jakarta. Penghasilan milenial yang masih berkutat di level bawah kelas menengah –sebanyak 46 persen generasi milenial di Jakarta penghasilannya masih di bawah Rp 4 juta– terancam tidak mampu membeli rumah di tahun 2018.

“Ini membuat milenial yang berpenghasilan Rp 4 juta terancam akan kehilangan daya beli rumah di tahun 2018,” kata Ignatius seperti dikutip Detik.com.