Parasayu Arizya Diandra, wanita 25 tahun ini kini tengah sibuk menjalani karier sebagai model, desainer, dan entrepreneur. Dia pun mengakui, Beruntung, IndonesianYouth.org memiliki kesempatan mewawancarainya di tengah kesibukannya.

Dia pun mengakui lumayan kesulitan membagi waktunya. Hanya saja, dia menyiasati dengan membagi hari dalam sepekan.

“Tengah pekan dibagi hari Senin sampai Rabu untuk urus bisnis makanan, Kamis sampai Jumat untuk baju, dan akhir pekan Job model, kadang bisa,” katanya.

Mengenai model Parasayu menceritakan pertama kalinya menjadi model, bidang yang dia sejak remaja hingga saat ini. Saat itu pertama kalinya dia mencoba ketika masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun masih gagal.

“Karena umurnya kekecilan,” kisahnya.

Memiliki segudang aktivitas sebagai desainer, model, dan entrepreneur Parasayu Arizya Diandra punya banyak cerita yang asyik dan menarik. Juga menginspirasi, tentunya.

Simak wawancara IndonesianYouth.org bersama Parasayu Arizya Diandra berikut ini:

Siapa sebenarnya seorang Parasayu Arizya Diandra?

Seorang model, creative editor untuk bisnis saya @byparasayu dan juga entrepreneur untuk kedua bisnis saya @byparasayu dan @nasinamex

Apa itu @byparasayu?

@byparasayu itu, adalah brand kasih sayang. Awalnya terbentuk karena aku hobi dan mencintai gambar atau desain baju dan senang bikin baju sendiri. Ketimbang beli baju di toko atau online, aku lebih sering bikin, terutama untuk special occasion. Semua aku yang desain, hingga jahit sendiri tapi kalau sudah sulit untuk detail serta polanya aku kasih ke tukang jahit.

Karena aku suka buat baju dari kecil, aku jadi bisa kasih kado baju buatanku ke orang-orang terdekat, salah satunya pacarku. Sebagai bentuk kasih sayang gitu. Ternyata banyak orang-orang (terdekat) suka dan aku diminta membuatkan, sampai aku kasih buat kado. Terus berpikir kenapa nggak aku bikin brand aja. Konsep brand ini customize, made by measurement. Jadi, desain sesuai permintaan dari pelanggan. Pastinya memenuhi keinginan, dan pelanggan memiliki rasa kepemilikan dari baju tersebut.

Sejak kapan belajar desain baju sendiri?

Sejak TK, karena suka gambar dan otodidak.

Apa hobi dan bakat itu yang membuat akhirnya memutuskan menjadi model?

Kalau model kayaknya berbeda sih, jadi memang dari kecil sebenarnya aku sudah iklan. Terus pas SMP sempat daftar ke majalah Kawanku tapi hanya lolos semifinal. Waktu itu kelas 1 SMP. Mungkin kekecilan. Terus pas kelas 3 (SMA) iseng daftar gogirl!. Look! Dan akhirnya lolos dan resmi jadi modelnya, urutan ke-8, sampai sekarang dan masih aktif di iklan juga.

Apa yang membuat ingin menjadi model?

Dari SD sebenarnya aku sudah iklan. Terus fix jadi modelnya itu kelas 3 SMA di majalah gogirl!. Kalau SMP dulu sempat gagal karena umurnya kekecilan.

Apa yang membuat Parasayu ingin menjadi model?

Waktu zamannya film Janji Joni pertama kali aku suka banget sama Mariana Renata, dan pengin kayak dia sampai sekarang. Walaupun sudah berumur tapi masih awet muda.

Sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu sebagai desainer atau model?

Untuk sekarang ini desainer dan bisnisnya sih. Karena aku juga harus maintain bisnis makananku @nasinamex juga.

Dari desainer ke model, sekarang merambah ke kuliner. Kok bisa?

Jadi waktu itu @nasinamex sudah ada dari 2013 di Bandung (ITB dan UNPAR) dan Southbox Prapanca, Jakarta. Tapi bisnisnya mau mati, ngga aktif dan sempat setahun vacum. Ownernya salah satu teman kita.

Sampai sekarang aku, pacarku dan beberapa partner di tim meneruskan, build dan rebranding lagi dan berjalan sampai sekarang, alhamdulillah.

Kenapa memutuskan di Bandung?

Karena memang kebetulan awalnya di Bandung dan sudah akrab juga dengan lidah mahasiswa sana. Kita berpikir kenapa enggak kita kembangkan di Bandung aja, mengingat harga makanan yang cukup ramah di dompet mahasiswa. Jadi makanan ini sudah khas banget sama mahasiswa Bandung terutama ITB dan UNPAR.

Apa istimewanya?

Istimewanya, murah. Untuk 20rb lebih sudah bisa dapat nasi, dory salted egg! Jadi pas di kantong mahasiswa.

Lebih sulit mana menjalani sebagai desainer, model, atau entrepreneur?

Bisnis dan desainer. Bisnis aku masih belajar banget, karena aku dasarnya kuliah di Masscom, tapi kebetulan pacarku dan teman-teman lain di tim juga saling suport untuk terus belajar agar terus maju.

Kalau desainer, yang sulit adalah ketika desain dicontek orang dan dijual lebih murah. Cuma nggak bisa apa-apa karena sampai sekarang pun desain baju belum ada hak patennya.

Punya pengalaman tersendiri?

Nggak ada sih, cuma teman-temanku punya brand jadi sering dengar dan terjadi kepada mereka. Soalnya, mau dicontek bagaimanapun pasti kembali ke service sih, bagaimana aku melayani customer aku dengan baik dan niat yg ikhlas.

Parasayu Diandra pernah menjadi beauty/fesyen jurnalis?

Oh iyaa betul tp dulu magang hehe, cuma lumayan lama. Kebetulan aku dulu kuliah majoring nya mass communications, belajar dunia broadcast, seperti investigation, news anchor, belajar menjadi jurnalis di media cetak maupun teve. Nah karena dikampusku semester tiga harus magang dan yang sesuai sama majoring-ku, aku pilih media cetak yaitu (dulu bernama) Girlfriend Magazine sebagai fashion and beauty journalist, merangkap juga jadi fashion assistant di umur 19, waktu itu.

Tapi menariknya, kok tiba-tiba bisa “belok” ke digital strategist di salah satu transportasi online. Gimana ceritanya bisa “nyasar” ke sana?

Oh iya, jadi di kampusku semester 6 memang belajar digital media, jadi aku cukup paham dan waktu 2016 kebetulan masuk Unicorn Company seperti GO-JEK. Dari tiga kali tes dan dari banyak cewek-cewek yang daftar untuk jadi Digital Media Strategist GO-GLAM, aku yang diterima. Terus di bulan kedua aku pindah jabatan jadi Digital Strategist GO-LIFE. Keseluruhan digital GO-LIFE aku handle, GO-MASSAGE, GO-CLEAN, dan GO-GLAM.

Kenapa tidak meneruskan?

Simply nggak jodoh, dan mungkin lebih berjodoh kerja sendiri ya.

Lebih passion sebagai desainer dan model?

Iya, waktu yang tersedia lebih bisa bermanfaat seperti bisa buat belajar, lebih bisa quality time, dan mungkin passion-nya lebih besar untuk kerja sebagai entrepreneur, model, dan desainer.

Memang bagaimana perkembangan model saat ini, ditambah adanya media sosial?

Menurutku, perkembangan dunia permodelan sekarang berkembang pesat. Semakin keren-keren, dan mampu bersaing secara internasional. Itu sebuah kelebihannya yang menurutku, keren banget. Tapi, kekurangannya menurut ku, secara pandangan pribadi, model-model makin ke sini makin ke-‘bule-bule’-an ya. Jadi kurang menunjukkan sisi Indonesianya.

Dari sisi mana?

(Secara pribadi) bukan berarti nggak baik, ya. Tapi aku sering banget lihat media sosial model Indonesia yang blasteran terus jadi menerapkan konsep ke-barat-barat-an, jadi melupakan budaya Indonesia.

Apakah dengan adanya media sosial setiap orang bisa menjadi model?

Menurutku tergantung bentuk dan tujuannya seperti apa. Ada yg memang passion atau pekerjaan, ada juga yang cuma bentuk ekspresi diri atau buat foto-foto iseng saja.

Ada kriteria khusus untuk menjadi model?

Tergantung, saya berawal dari gogirl! Magazine. Jadi menurut saya semua tergantung branding masing-masing majalahnya. Misal American Next Top Model harus tinggi, pintar catwalk tapi untuk model majalah ngga harus. Jadi kembali ke branding dan hal-hal yang menjadi-menjadi peraturan dari company tersebut. Mungkin gogirl! Magazine kriterianya berbeda dari majalah Gadis.

Bagaimana dengan selebgram atau sejenisnya, bisa dikatakan sebagai model juga?

Tergantung sih, selebgram yang seperti apa. Kalau influencer yang memang berasal dari model, ya dia memang model. Jadi sekali lagi menurutku tergantung bentuknya seperti apa dan tujuannya apa.

Tulisan Parasayu tentang haters, bagaiamana ceritanya?

Oh iya, sebenarnya enggak cuma ke aku sih. Tapi ke beberapa orang pasti pernah merasakan hal yang kayak gini. Di mana, orang yang sirik atau nggak suka sama kita.

Waktu itu ada masa di mana, aku baru pacaran sama pacarku sekarang yang statusnya musisi dan sempat dihujat tanpa alasan jelas. Padahal mungkin mereka juga nggak tau sebenarnya. Tapi itu hanya berlangsung selama beberapa bulan, yang penting berbuat kebaikan. Kindness matters. Biar orang lain menilai sendiri.

Apa yang dilakukan untuk mengatasi tekanan itu?

Nggak melakukan apa-apa, aku berbuat baik saja.