Baru-baru ini musikus dan sutradara papan atas Indonesia, Glenn Fredly dan Jay Subiakto, menjadi pembicara dalam kegiatan IndonesianYouth Conference 2017 dalam sesi Industri Kreatif yang diselenggarakan di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017). Di sana, keduanya membagikan pengalaman dan kiatnya untuk terus eksis di industri kreatif.

Baca juga:

Glenn, yang sejak bangku SMA sudah akrab dengan musik, menceritakan awal mulanya ia terjun ke dunia musik. Katanya, ia selalu berkumpul dengan lingkungan yang profesinya bermain musik. Sejak saat itu, dirinya ingin selalu bermain musik, sebelum akhirnya ia bergabung dengan major label di tahun 1998.

“Saya bermusik karena terinspirasi dari musisi-musisi yang saat ditanya profesinya apa, ‘bermain musik’, dan saya ingin seperti itu. Kalau ditanya apakah bisa hidup dengan dunia musik Indonesia, jawabannya ‘bisa iya, bisa tidak’, tergantunng dari mana kita melihatnya,” katanya.

Perkembangan teknologi membuat karier musik Glenn di Indonesia tidak berjalan mulus. Di masa itu, penjualan musiknya tak terbilang tinggi. Di 2010 ia pun sempat jeda sejenak untuk mencari jalan keluar dari dunia yang digelutinya itu.

“2010 saya memutuskan untuk memberikan jeda waktu untuk, ‘saya harus apa setelah ini’. Pada saat itu tepat di mana saya berpikir, saya harus di musik analog atau digital,” ungkapnya.

Meski begitu, Glenn tak patah arah, di tahun yang sama dirinya justru hengkang ke dunia film. Dirinya memproduseri film Cahaya Dari Timur –bersama Angga Dwimas Sasongko– yang dirilis tahun 2014 lalu.

“Karena saya galau dengan ekosistem musik makanya saya hijrah ke film dan untuk keluar dar zona nyaman saya. Kebetulan film itu dapat penghargaan sebagai film terbaik,” ujarnya.

Baca juga:

Dunia musik rupanya sudah mendarah daging bagi pria bernama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ini. Dua tahun jeda dan beralih ke film, dirinya kembali bermusik pada 2012. Ketika itu, diceritakannya, ia mendapat pencerahan baru dari sebuah ekosistem musik, di mana ia menemukan Lokanata Studio.

“Lokanata Studio sebagai platform di mana negara telah memikir jauh sekali tentang industri musik Indonesia. Studio ini berisi katalog musik indonesia,” tuturnya.

Kembali ke dunia musik tak lantan membuat Glenn melupakan perfilman. Bahkan, film adalah sesuatu yang turut digeluti oleh penyanyi berdarah Ambon ini terus memproduseri dua film –setelah Cahaya Dari Timur— yakni Filosofi Kopi (2015) dan Surat dari Praha (2016).

Dari cerita singkat tadi, ada yang bisa kita petik untuk terus bisa berkarya di dunia musik, atau industri kreatif dalam perspektif lebih luas, yaitu, pertama tentukan bidang apa yang ingin kita geluti sebagai karier. Karena industri kreatif itu sangatlah luas.

Kedua, perkembangan zaman terus bertransformasi dan bergulir sangat cepat. Artinya, kita harus bisa terbiasa dan mampu beradaptasi dengan keadaan itu. Kalau tidak kita bisa tertinggal.

Ketiga, seperti kisah Glenn tadi di mana dirinya berpindah haluan dari musik ke film, adalah tidak mudah putus asa, dan harus selalu membuka dan mencoba kemungkingan-kemungkinan baru. Sebab, kalau tidak kita akan jalan di tempat.

Di sisi lain, Jay Subiakto, setidaknya memberikan bekal bagi anak muda yang ingin berkecimpung di dunia kreatif. Menurutnya, ada lima hal yang perlu dilakukan. Pertama, harus punya kesungguhan, ketekunan.

“Orang kita tidak bangga dengan orang Indonesia sendiri, lebih bangga dengan milik orang lain,” katanya.

Kemudian, menurutnya, jangan takut susah dan harus idealis. “Kita butuh uang tapi kalau tidak idealis, tidak ada hasilnya dan tidak akan benar,” sebutnya.

Selanjutnya, harus profesional dan pakai hati. Bukan hanya uang harus, harus ada ketenangan jiwa. Lalu, jangan pernah mengulang apa yang pernah bikin sukses.

“Jangan bilang ‘saya tidak ada ide yang kuat’, karena orang akan bosen (kalau hasilnya itu-itu saja),” katanya.

Terakhir, kata Jay, ikuti kata hati. Berani menolak pekerjaan.