Media sosial kian meningkat pamornya seiring bertepatan dengan momen Pemiluhan Umum 2014 serta Pemilihan Kepala Daerah 2012 dan 2017. Di momen itu dan lewat media sosial pula segala aktivitas kampanye dilakukan. Disayangkan, banyak oknum yang membuat hoax dan menyelipkannya melalui media sosial.

Sejauh ini media sosial dianggap sebagai sarana paling efektif menyebarkan hoax, fitnah, SARA, dan ujaran kebencian. Bahkan, sekolompok orang melakukannya dengan terorganisir –terbukti ditangkapnya kelompok Saracen.

Di lain sisi ada juga ada aktor individu yang memang melakukannya karena keinginan dirinya sendiri. Untuk kasus ini, menurut Sherry Turkle (2012), ahli psikologi dan peneliti Internet, mengutip Tempo, disebabkan karena dunia daring membuat orang selalu terhubung dan menawarkan pemenuhan tiga kepuasan (gratification): bebas memberi perhatian di mana pun kita berada, selalu akan didengar atau diperhatikan, dan kita tidak pernah sendirian. Dengan demikian, jika tiba-tiba kita memiliki waktu jeda (misalnya saat menunggu) kita merasa “cemas” dan segera menuju dunia daring.

Baca juga:

Para psikologi juga mengenal fenomena yang disebut confirmation bias (bias konfirmasi), yaitu kecenderungan orang untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi, mengkonfirmasi, atau meneguhkan pandangan yang dimiliki sebelumnya. Hoax segera dianggap sebagai kebenaran jika sesuai pandangan sebelumnya yang bermuatan emosi, misalnya soal politik atau agama.

Kita sebagai pengguna kerap merasa diresahkan oleh adanya kejadian itu di media sosial. Bahkan, keresahan kita belum bisa menghilang dalam waktu dekat. Sebab, polarisasi semacam itu dinilai masih akan muncul mengingat Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilihan Umum 2019 akan berlangsung satu dua tahun ke depan.

Lalu bagaimana kita sebagai pengguna meningkatkan awareness dalam mengelola informasi yang diterima? Dan perlukah kita menjadi editor diri sendiri?

Jawabannya bisa kamu temukan di Di IndonesianYouth Conference 2017 x KIBAR yang akan berlangsung di Townsquare, Cilandak, Jakarta, 16 Desember mendatang, melalui sesi Public Discussion Media Sosial dengan topik “Partisipatif, Aktif dan Kritis Peran Anak Muda dalam Jagat Maya” bersama Ndoro Kakung (Pegiat Media Sosial), Anggis Dinda (Head of PR for Youth of Indonesia), Luthfi Kurniawan (Social Media Specialist, Kompas.com), dan akan dimoderatori oleh Nabila Abdat (CEO Good Vibes Management) di tenant Second Home.

Dalam public discussion ini IYC mengajak kamu mencari tahu tips and trick mengelola media sosial serta meningkatkan awareness dalam mengelola informasi yang diterima. Juga, kamu bisa belajar melakukan validasi sebuah informasi dengan tujuan untuk dapat lebih memahami dasar-dasar dalam mengonsumsi informasi di dunia maya.

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talkshow atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar di bidangnya.