Dua tahun lalu saat berpidato di wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (27/2/16), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani pernah menuturkan bahwa Indonesia masih kekurangan sarjana teknik untuk memenuhi tuntutan industri. Padahal, menurut Statista, lembaga statistik Independen asal Jerman, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dengan negara penghasil lulusan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) tertinggi di dunia.

Ilmu Teknik pernah menjadi primadona pendidikan Indonesia, terutama di era Orde Baru, ketika Indonesia menggenjot industri dalam negeri. Ilmu Teknik menjanjikan karier yang stabil, gaji yang mapan, dan masa depan yang cerah. Hingga kini, program studi Teknik memang masih menuai banyak peminat, namun hal ini tidak menjanjikan lulusan yang mau bekerja di bidang teknik.

Tidak sedikit lulusan Ilmu Teknik yang beralih bidang pekerjaan, mulai dari menjadi analis bisnis, bekerja di bank, hingga menjadi pengusaha rumah makan. Sebagai salah satu jurusan yang menelurkan lulusan dengan pemikiran kritis dan analitis, lulusan teknik banyak diburu oleh berbagai bidang pekerjaan selain teknik. Maraknya lowongan pekerjaan yang tidak membutuhkan prasyarat jurusan tertentu membuat sarjana teknik dengan mudah melamar ke bidang lain.

kredit: world economic forum

Di samping faktor eksternal tersebut, faktor internal juga tidak kalah penting. Di usia yang begitu muda, siswa SMA didorong untuk mengambil keputusan yang akan menentukan jalan hidupnya di masa depan, yaitu memilih jurusan kuliah. Menurut survey Ikigai Career, keputusan tersebut seringkali dipengaruhi oleh orangtua, teman, atau bayangan tentang karier yang akan dijalani di masa depan. Jarang sekali anak yang mengambil keputusan karena merasa jurusan tersebut cocok untuknya.

Maka tidak heran jika lambat laun, siswa yang tidak memilih karena dirinya sendiri, memutuskan untuk beralih bidang yang berlawanan dengan pendidikannya. Padahal, alangkah lebih baik jika bidang yang ditekuni sesuai dengan pendidikan yang sudah ditempuh selama kurang lebih empat tahun tersebut.

Di lain pihak, problema defisit sarjana teknik ini dibarengi dengan surplus mahasiswa di bidang manajemen, akuntansi, ilmu komunikasi, teknik informatika, dan lain-lain. Padahal, bisa jadi mahasiswa yang masuk jurusan sosial-humaniora itu, lebih cocok masuk di jurusan teknik. Hanya saja, dia tidak familiar dengan rumpun ilmu teknik yang ada di perguruan tinggi Indonesia.

Ketidakrataan jumlah mahasiswa di Indonesia dapat diatasi dengan memberikan panduan bagi siswa untuk memilih jurusan berdasar kepribadiannya. Selain membaca deskripsi jurusan di website universitas, ada beberapa start-up teknologi pendidikan yang dapat membantu siswa menemukan jurusan yang cocok dengan karakternya. Salah satunya adalah Ikigai Career (ikigaicareer.com), online platform di mana siswa bisa melakukan tes psikologi online dan mendapat rekomendasi jurusan serta universitas yang cocok dengannya. Dengan membimbing siswa untuk memilih jurusan yang sesuai dengan kepribadian dan minatnya, niscaya ketidakrataan jurusan di Indonesia bisa diminimalisir.


Tulisan di atas merupakan opini penulis. IndonesianYouth.org tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected]

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!