Revolusi industri sudah masuk pada generasi keempat (industry 4.0), di mana ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi. Revolusi industri ini dapat menjadi peluang atau penghambat dalam dunia industri. Jauh dari itu, kemajuan teknologi mengancam degradasinya kemanusiaan. Lalu, sebagai anak muda bagaimana cara kita menghadapi tantangan revolusi generasi keempat ini?

Prasetya Andi Wicaksono dan Gerryadi Agusta di kegiatan IndonesianYouth Conference 2017 memaparkan dampak teknologi yang sebenarnya sangat dekat masyarakat. Hanya, kebanyakan dari mereka belum aware akan hal itu.

Presetya, atau akrab disapa Paw, mengambil contoh dari sebuah film animasi yang tayang tahun 2008 lalu, Wall-E. Film itu menceritakan dunia di abad 22 yang menjadi hancur, penuh dengan sampah-sampah elektronik, dan manusia diungsikan sementara ke sebuah kapal armada luar angkasa besar. Di film itu digambarkan manusia mulai menjadi besar-besar, malas untuk beregerak, dan tidak bersosialisai.

“Di situ (film Wall-e), lihat, semuanya telah otomatis, orang lupa untuk ngobrol, jalan kaki, dan bersosialisasi dengan orang lain. Dan ini memungkikan terjadi ke kita kita. Kita cuma menggunakan teknologi, tapi enggak lihat apa manfaatnya, dan itu akan terjadi,” tuturnya saat menjadi pembicara dalam sesi Industry 4.0: Koneksi Tanpa Batas, di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Sementara Gerryadi Agusta, pegiat Cimahi Creative Association menjelaskan, perkembangan teknologi harus digunakan dengan tepat. Lanjutnya, industri teknologi saat ini semakin kencang dan semakin keren, namun menimbulkan dampak untuk anak-anak muda.

“Anak-anak muda ditantang untuk semakin kreatif dan dapat membuat hal-hal baru pada industri teknologi saat ini,” ujarnya.

Meski begitu, keduanya memiliki kiat-kiat untuk para anak muda agar tidak jatuh terlena dengan kemudahan teknologi. Baik Paw maupun Gerryadi membagikan tipsnya kepada kita:

Mulailah menjadi lebih kritis

Prasetya Andi Wicaksono atau yang sering dipanggil Paw memaparkan, orang-orang Indonesia khususnya anak muda cepat sekali dalam mengadaptasi teknologi. Anak-anak muda sangat latah akan perkembangan teknologi. Tetapi cepatnya anak-anak muda dalam mengadaptasi teknologi tidak diikuti pada produktifitasnya dalam menggunakan teknologi ini.

Anak-anak muda cenderung hanya menjadi pengguna dan tidak mau serta malu untuk bertanya mengapa dan menjadi kritis. Padahal, menjadi kritis pada hal-hal yang ada di sekitar kita adalah hal baik.

“Mengapa meja di sini bolong-bolong, kan kalau airnya tumpah jadi netes ke bawah. Oh di sini ada problem nih, sehingga saya harus meminta tatakan agar tidak menetes,” ujarnya dalam memberikan contoh.

Hal-hal kritis seperti itulah menyebabkan kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mencari solusi akan suatu masalah dan itu dapat kita manfaatkan.

Learn from basic

Gerryadi Agusta mengajak anak-anak muda untuk belajar segala suatu hal mulai dari dasaranya. “Yang saya lihat, generasi muda itu inginnya instan, senangnya cepat. Kita senang yang cepat, tapi kita lupa untuk belajar dasarnya,” katanya. Dengan belajar pada dasar, kita dapat mengembangkan hal-hal ke arah lebih maju lagi.

Empati

Gerry dan Paw sepakat bahwa empati dapat memenangkan pasar. Gerry menjelaskan bahwa di indutri 4.0, robot-robot tidak memiliki empati yang sama halnya dimiliki oleh manusia. Robot-robot hanya bekerja sesuai sistem yang telah ada. Berempati membuat kita peka pada lingkungan, peka pada problematika dan dinamika yang terjadi. Melalui empati kita dapat tau solusi apa yang seharunya kita ambil untuk sebuah problematika atau peluang yang terjadi.

Menurut keduanya, hal yang tidak dimiliki oleh teknologi adalah empati. Anak-anak muda yang tidak memiliki empati sulit untuk memenangkan pasar. Apapun karya yang dibuatnya, tidak akan relevan jikalau tidak memiliki empati. Teknologi digital tidak memiliki empati, tidak memiliki emosi, namun manusia memiliki kedua hal itu.

“Orang-orang yang punya empati, orang yang bakal survive,” ujar Paw.

Teknologi bukan tujuan

“Jangan pakai teknologi sebagai tujuan. Kalo teknologi itu untuk tujuan, kalian salah. Tujuannya adalah bukan teknologinya, melainkan value yang ingin kita dapat,” kata Paw.

Menurutnya, anak-anak muda harus tahu dulu tujuannya apa. Setelah mengetahui tujuannya, mulailah cari teknologi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Anak-anak muda harus punya alasan tepat untuk menggunakan sebuah teknologi.