Pernahkah kalian memonton film Wall-e? Film yang menceritakan dunia pada abad ke-22 yang menjadi hancur, penuh dengan sampah-sampah elektronik, dan manusia diungsikan sementara ke sebuah kapal armada luar angkasa besar. Di film itu digambarkan manusia mulai menjadi besar-besar, malas untuk beregerak, dan tidak bersosialisai. Seperti itulah gambaran dunia dan manusia ketika terlena akan kemajuan teknologi.

Analogi tersebut dijelaskan oleh Prasetyo Andi Wicaksono, Founder Code for Indonesia, dalam paparannya pada talkshow Industry 4.0: Koneksi Tanpa Batas, saat kegiatan IndonesianYouth Conference 2017, di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017). Katanya, teknologi bisa menjadi dua sisi berbeda: dapat menjadi keuntungan atau ancaman, jikalau kita terlena.

Ia menceritakan (berdasarkan film Wall-e) dunia telah rusak lantaran semua berjalan serba otomatis, seperti robot. Menurutnya, semuanya tidak ada lagi manusia sesungguhnya di tengah terpaan teknologi yang digambarkan dalam film itu.

“Di situ (film Wall-e), lihat, semuanya telah otomatis, orang lupa untuk ngobrol, jalan kaki, dan bersosialisasi dengan orang lain. Dan ini memungkikan terjadi ke kita kita. Kita cuma menggunakan teknologi, tapi enggak lihat apa manfaatnya, dan itu akan terjadi,” tuturnya.

Lebih jauh, Renata Clara menyampaikan, kalau saat ini masyarakat hanya melihat satu sisi dampak dari teknologi, yakni kemajuannya. Namun, dikatakan Clara, masyarakat tidak melihat sisi lainnya yaitu dampak.

“Seakan-akan teknologi itu sebuah pintu, kita lihat pintunya bagus doang. Tapi tidak lihat seramnya itu. Orang-orang lihat dari satu sisi (saja), kita cuma dapat satu data. Kita benar-benar jadi semacam makanan doang buat mereka,” ujarnya khawatir.

Sementara Gerryadi Agusta, pegiat Cimahi Creative Association menjelaskan, perkembangan teknologi harus digunakan dengan tepat. Lanjutnya, industri teknologi saat ini semakin kencang dan semakin keren, namun menimbulkan dampak untuk anak-anak muda.

“Anak-anak muda ditantang untuk semakin kreatif dan dapat membuat hal-hal baru pada industri teknologi saat ini,” ujarnya.

Menjadi gagap teknologi memang tidak sewajarnya menjadi bagian dari anak muda. Sebab, teknologi saat ini adalah alat bantu paling efisien dlam aktivitas sehari-hari. Namun, menjadi kecanduan teknologi juga bukan jalan yang harus dipilih, terlebih menggapai keberhasilan.

Banyak dari kita menilai dengan menggunakan teknologi, paham media sosial, dan setidaknya memiliki dua telepon pintar di tangan adalah lambang kesuksesan. Padahal, teknologi di Indonesia terbilang lambat. Kebanyakan dari kita tidak paham bagaimana sebenarnya teknologi bekerja.

Maka, kita sebagai generasi muda sudah semestinya mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain. Karena update status bukanlah simbol hebatnya seseorang menggunakan teknologi. Lagi pula, sebenarnya, teknologi tidaklah canggih, kalau manusianya pun tak canggih.