Kita hidup dalam era di mana kita memiliki akses terhadap informasi selama 24 jam penuh. Perkembangan teknologi telah memudahkan kita untuk mendapatkan berita apapun dari berbagai belahan dunia mana pun dan kapan pun kita mau. Mulai dari berita politik, ekonomi, kriminal, urusan percintaan orang lain, sampai merek tas apa yang dipakai oleh seorang selebriti hari ini, semua dapat kita ketahui dengan mudah.

Jika dahulu opsi media massa hanya terbatas pada media cetak seperti koran dan majalah, kini kita telah disuguhkan dengan lebih beragam: eletronik dengan radio dan televisinya dan terbaru dengan media daring.

Penggunaan media massa berbasis teknologi ini pun terus mengalami peningkatan yang pesat dari tahun ke tahunn. Tercatat melalui berbagai sumber bahwa ada 1,6 miliar pesawat televisi (Statista, 2016), 3,4 miliar pengguna daring (Internet Live Stats, 2016), dan 3,9 miliar pengguna radio (UNESCO, 2017) di seluruh dunia pada tahun 2016.

Saat ini media daring adalah primadona bagi banyak kalangan —terutama generasi millenial— karena kepraktisannya yang dapat diakses hanya dengan sentuhan layar gawai dalam genggaman. Saat kita bangun tidur, tak sedikit dari kita pasti langsung cek telepon seluler. Mengakses portal berita melalui internet pun kini sangat mudah dikarenakan fitur yang disediakan oleh berbagai aplikasi media sosial.

Sayangnya, dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh para pengembang teknologi daring untuk memanjakan penggunanya, tak jarang juga berita yang kita baca justru masih saja berkutat pada berita yang bermuatan konten negatif. Mengenai kasus pembunuhan, penculikan, kekerasan, korupsi, penipuan, terorisme, bencana, sampai skandal perselingkuhan, misalnya. Berita seperti itu mudah kita temui dalam banyak headline portal berita. Dan mirisnya, kita menikmati berita-berita dengan muatan konten negatif tersebut.

Mengapa kita lebih menikmati berita negatif daripada berita positif?

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh peneliti Stuart Soroka dan Stephen McAdams dalam artikel jurnal yang berjudul “News, Politics, and Negativity” seperti dilansir dari blogs.lse.ac.uk, terdapat temuan bahwa berita negatif—jika dibandingkan dengan berita positif—cenderung meningkatkan gairah dan perhatian. Hal ini dibuktikan dengan eksperimen laboratorium yang dilakukan oleh Soroka dan McAdams yang di mana para peserta diminta untuk menyaksikan berita positif dan negatif dan bertujuan untuk meninjau kecenderungan manusia dalam menyerap informasi negatif dari aspek neurologis dan fisiologis. Dari eksperimen tersebut dipantau sejumlah indikator reaksi fisiologis peserta seperti detak jantung dan konduktansi kulit. Dan hasilnya, peserta yang menyaksikan berita negatif cenderung mengalami peningkatan detak jantung dan peningkatan produksi keringat yang artinya sesuatu yang memiliki negativitas secara alami lebih meningkatkan gairah dan perhatian manusia.

Baca juga: Mengapa Berita Hoax Begitu Laris?

Studi lain yang hampir serupa dilakukan oleh seorang jurnalis dan psikolog Daniel Goleman. Menurutnya berita seperti kematian, kecelakaan dan bencana adalah sebuah bentuk ancaman, dan ancaman adalah sesuatu yang membuat kita takut dan harus dihindari. Berita-berita seperti inilah yang nyatanya lebih memenuhi bagian primitif dalam otak kita yang disebut sebagai sistem limbik atau struktur di otak yang terhubung dengan emosi.

Para ahli bersepakat menyebut fenomena ini sebagai “negativity bias”. Istilah “negativity bias” itu sendiri merupakan sebuah istilah psikologis untuk merepresentasikan kebutuhan kolektif manusia dalam mendengar dan mengingat berita yang bersifat negatif. Kebutuhan kolektif ini tentu didasari oleh maksud untuk menghindari bahaya dan ancaman serupa yang mungkin saja juga bisa terjadi kepada kita.

Dampak berita negatif terhadap kesehatan mental

Adanya berita negatif memang dapat menjadikan kita lebih waspada dan peka terhadap lingkungan sosial kita, namun jika dikonsumsi secara terus menerus dan bahkan berlebihan tentu dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental kita. Seorang profesor psikologi dari University of Texas San-Antonio Dr. Mary McNaughton-Cassill mengatakan bahwa eksposur berita negatif yang terus menerus dan berlebihan dapat meningkatkan perasaan depresi dan kecemasan di kalangan konsumen berita. Hal ini dapat berupa sakit kepala, mati rasa, stres akut, trauma, atau bahkan tendensi untuk enggan bersimpati.

Baca juga: Jangan Lakukan 5 Hal Ini Kalau Enggak Mau Dituduh Penyebar Hoax

Pernyataan McNaughton-Cassill nyatanya setali tiga uang dengan studi yang dilakukan oleh seorang psikolog asal Inggris, Dr. Graham Davey. Davey menuturkan bahwa berita negatif secara signifikan dapat mempengaruhi suasana hati seseorang—apalagi jika berita tersebut menekankan kepada komponen emosional dan sisi penderitaan dari konten cerita. Pada tingkat neurologis, rangsangan negatif dapat membuat seseorang merasa lebih negatif terhadap lingkungan yang lebih luas. Hal ini dapat menyebabkan efek psikologis yang serius dan berjangka panjang seperti kecemasan, stres, depresi, somatisasi (tanda-tanda fisik stres dalam tubuh), dan gangguan stres pasca trauma.

Lalu, kenapa media massa masih saja menyajikan berita negatif?

Singkat jawabannya. Dalam hemat saya, ibarat teori ekonomi supply (penawaran) dan demand (permintaan), bahwa di mana manusia secara alamiah selalu haus akan berita negatif maka di situ pasti akan selalu ada penyajian berita yang negatif pula sebagai bentuk pemenuhan “kebutuhan” tersebut.

Baca juga: 4 Hal Ini Perlu Dilakukan Saat Terlanjur Sebar Berita Hoax

Tetapi perlu kita pahami di sini bahwa penyajian berita negatif bukan sekedar bisnis media massa belaka untuk meningkatkan jumlah audiens dan meraup keuntungan semata. Dalam konteks ini, media massa memiliki fungsi sebagai agen perubahan dan kontrol sosial dalam masyarakat. Dengan adanya berita negatif, tentu dapat membuka cakrawala kita bahwa ada kehidupan di luar sana yang ternyata ‘tidak baik-baik saja’ dan butuh atensi serta penanganan lebih lanjut.

Menyikapi berita negatif

Mungkin beberapa dari kita setuju bahwa cara terbaik dalam menyikapi berita negatif adalah dengan mengambil perspektif positif dari setiap cerita yang ada. Dengan bersikap positif, justru berita negatif dapat berpotensi menjadi suatu titik balik harapan kita untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya.

Tidak semua berita negatif juga perlu kita cerna. Dewasa ini sudah sepatutnya kita sebagai konsumen berita yang cerdas dapat menilai mana berita yang aktual, berimbang, objektif, dan tidak menanamkan kebencian terhadap individu atau golongan tertentu baik secara implisit maupun eksplisit, dan mana yang bukan.

Dan yang terpenting, mengkonsumsi berita negatif juga tak perlu berlebihan. Tidak selalu menyaksikan berita negatif bukan berarti menjadi tanda bahwa kita tidak peduli terhadap lingkungan sekitar kita, tetapi justru sebagai tanda bahwa kita peduli terhadap kesehatan mental kita sendiri dan peduli terhadap kualitas kehidupan pribadi kita yang tentunya akan turut berpengaruh kepada kualitas generasi penerus di masa yang akan datang.

sumber: BBC, huffingtonpost, medical daily, diamundialradio.org, statista.com, goodtherapy.org, internetlivestats.com.


Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!