Berdasarkan data UNESCO, kian ke sini penderita gangguan jiwa semakin muda. Sedangkan WHO memprediksi di 2020 depresi menjadi beban kesehatan peringkat dua sebagai penyebar kematian setelah penyakit jantung. Founder Into the Light, Benny Prawira, menilai persoalan ini sangat serius.

Benny beralasan, penderita kesehatan mental –dan berpotensi melakukan bunuh diri– tak bisa dilihat dari penampilannya saja.

“Ini bukan persoalan kekurangan iman, cengeng, dan lain-lain. Ini perspektif yang harus kita ubah. Makin ke sini teman-teman yang terkena kesehatan mental makin muda, ini bisa terjadi karena keluarga,” katanya saat menjadi pembicara “Kesehatan Mental” dalam kegiatan IndonesianYouth Conference 2017, di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Apa yang disampaikan Benny ada benarnya bila melihat kejadian beberapa waktu lalu, di mana vokalis Linkin Park, Chester Bennginton, secara mengejutkan tewas bunuh diri. Padahal, sehari sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya mengalami depresi.

Persoalan lainnya adalah pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan mental. Benny mencontohkan, perbandingan antara psikiater dan psikolog di Indonesia masih sangat rendah.

“Jumlahnya masih di bawah sepuluh ribu,” ungkapnya. “Perbandingan lainnya, di provinsi sebesar Papua, hanya ada satu rumah sakit jiwa. Dan itu adalah tantangan terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini.”

Salah satu umum ditemui dalam hal kesehatan mental adalah stres. Meski itu adalah sesuatu alamiah, namun masih banyak yang menganggap stres bersifat negatif.

Sementara, Praktisi Psikologi Retha Arjadi menilai, stres bisa bersifat positif dan mendorong seseorang berbuat hal baik.

“Kapan itu menjadi negatif? Itu terjadi saat beban yang ada melebihi kemampuan kita,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Selain stres, masih menurut Retha, ada yang lebih besar dampaknya, yakni depresi. Pasalnya, depresi bisa mengganggu kegiatan dan aktivitas sehari-hari.

“Sama seperti istilah psikologi lain, ada baiknya kita sedikit berhati-hati untuk menggunakan term depresi, karena ada jangka waktu tertentu untuk menentukan kita sudah di tahap mana,” begitu penjelasannya.

“Kapan itu bisa dikatakan gangguan? Ketika gejala-gejala yang ditemukan bisa berdampak pada keseharian. Misalnya, tidak bisa kerja, tidak bisa kuliah, sampai tidak bisa bergaul. Sedangkan selama kita masih bisa melakukan hal-hal itu ya itu cuma stres biasa (alami),” terangnya.

Dia menambahkan, tiap individu sebenarnya bisa mendeteksi gejala stres dirinya sendiri. Biasanya, kata Retha, sifatnya berulang-ulang.

“Misalnya saya, nafsu makan bisa bertambah dan sulit tidur ketika stres, dan apa yang harus kita lakukan untuk pertolongan pertama? Break, badan dan jiwa kita butuh istirahat, misalkan tidur lebih lama, pergi nonton, dan menghibur diri sendiri,” jelasnya.