Bahasa isyarat sering diartikan hanya untuk mereka yang tuli dan bisu. Padahal bahasa isyarat bisa di pelajari oleh siapa saja baik orang yang mempunyai pendengaran normal atau tidak bisu sekali pun. Dalam IndonesiaYouth Conference 2017 yang dilaksanakan di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017), menggelar workshop dengan topik “Bahasa Isyarat Untuk Kita Semua”.

Workshop ini diisi oleh tiga pembicara, yaitu Laura Lesmana Wijaya sebagai Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Dhita Indriyanti sebagai Pengajar Bahasa Isyarat, dan Myrna Mustika Sari. Ketiganya memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat.

Myrna dan Dhita pertama kali memperkenalkan alfabet menggunakan bahasa isyarat. Satu-persatu peserta diminta untuk maju mempraktikkan di depan peserta lainnya.

Kemudian mereka berdua mengajarkan cara bertanya dan memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat. Lalu Laura Wijaya membawakan materi mengenai orang tuli. Menurut Laura, orang tuli itu bukanlah sakit tapi mereka hanya berbeda. Jika orang biasa memanggil lawan bicara dengan nama, mereka memanggil lawan bicaranya dengan menepuk pundaknya.

“Mereka,” katanya, “bukannya tidak mau bicara namun akan jauh lebih efektif berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Selain itu dalam berdiskusi mereka lebih suka dengan formasi duduk V, dengan begitu semua bisa melihat gerak bahasa isyarat.”

Bahasa isyarat adalah bahasa bahasa tubuh dan gerak bibir, bukannya suara untuk berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, biasanya mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan maksud pesannya.