Perbedaan pendapat dan pandangan adalah dinamika sosial yang wajar terjadi dalam bermasyarakat. Namun belakangan, perbedaan pendapat dan pandangan kerap dipandang sebagai pemicu konflik –tak jarang berujung pada kekerasan.

Ketua Program Studi Agama dan Lintas Budaya Universtias Gajah Mada (UGM) Zainal Abidin mengatakan, konflik, menurut Johan Galtung, biasanya memiliki aktor-aktor yang memiliki tujuan yang berbeda, dan setiap orang ingin memenuhi itu.

“Mereka berusaha untuk merealisasikan tujuan mereka dan itu merupakan tujuan dari konflik tidak memandang siapa yang benar ataupun siapa yang salah,” katanya dalam sesi Konflik dan Kekerasan saat kegiatan IndonesianYouth Conference 2017, di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

“(Sedangkan) kekerasan merupakan bagian dari penyelesaian konflik, tetapi yang buruk.” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, konflik itu memiliki teori sendiri. Sebab sebuah konflik tidak semata terjadi begitu saja. Menurut Zainal konflik memiliki tahapannya sendiri, yakni menginisiasi, esksaltasi, dan kemudian intervensi.

Akan tetapi, sebenarnya, menurut Zainal, melihat dari majemuknya negara Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika), konflik adalah hal wajar. Maka dari itu, terpenting adalah bagaimana menghadapinya.

“Yang kita inginkan adalah menyelesaikan masalah tanpa mengurangi perbedaan. Konflik jika tidak diselesaikan dengan baik, maka kita akan sampai pada titik kita bertanya bagaimana cara menyelesaikannya. Pluralisme adalah solusi peyelesaian masalah yang terbaik,” ujarnya.

Di sisi lain, Ayu Kartika Dewi Co-Founder dari Sabang Merauke –yang juga menjadi pembicara di IYC 2017– menceritakan segala pengalamannya selama berada di Maluku, di mana segala permasalahan konflik dan kekerasan banyak memicu kebencian di antara masyarakat sana. Tidak hanya itu ia juga menceritakan pengalamannya menjadi muslim, yang notebene minoritas di Amerika.

“Kita bisa selalu berada di dua sisi, sisi minoritas, dan sisi mayoritas, ketika kita berada di sisi minoritas itu yang membuat kita untuk toleran, dan seharusnya ketika kita berada di sisi mayoritas kita bisa mengangkat minoritas,” tuturnya.

Oleh karena itu dengan segala permasalahan yang dihadapi, ia berusaha untuk membantu menyelesaikan masalah konflik dan kekerasan dengan caranya sendiri sesuai dengan kemampuan yang bisa ia miliki.

“Solusinya adalah dengan membuat komunitas Sabang Merauke dengan programnya pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia dengan tujuan menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesia-an,” jelasnya.

Tidak hanya itu kedua narasumber berpesan untuk terus menyebarkan pesan perdamaian atau pesan kebaikan untuk tetap menjaga keutuhan.

Sebagai anak muda saatnya menjadi agent of peace untuk diri sendiri, orang sekitar, keluarga, Indonesia, dan untuk dunia. Kita juga berkewajiban untuk aktif dalam merawat toleransi dan perdamaian.