24 jam rasanya tak cukup untuk memperoleh hidup yang seimbang. Tekanan memperoleh nilai memuaskan agar membuka jalan ke pekerjaan impian, deadline segudang tugas yang beruntun, kebutuhan sosialisasi, waktu untuk keluarga, ditambah dengan keinginan untuk memiliki waktu sendiri di akhir pekan, rasanya tidak mengejutkan jika tingkat stres manusia, tak peduli berapa usia mereka, selalu meningkat setiap tahunnya, tak terkecuali di Indonesia. Tak mengejutkan pula bahwa ternyata generasi muda dalam usia produktiflah yang memegang angka stres paling tinggi.

Stres merupakan perasaan yang kerap menghantui tiap individu, tak terkecuali generasi millenials saat ini. Terbukti dengan bertebarannya Instastory dengan ungkapan “bad day” atau “stress max”, lengkap dengan emoji sedih dan raut muka “cemberut”, menjadi sajian untuk pengikut Instagrammu.

Keluhan “ya ampun gini amat hidup” juga kerap menjadi tagline umum video curahan hati pengguna Instastory. Tak jauh berbeda, kesengsaraan juga kerap menghantui para mahasiswa yang skripsi bab III-nya selalu terasa jauh dari kata selesai, belum lagi sang pacar yang tiba-tiba berubah, atau bahkan pergi saat sedang sayang-sayangnya. Eh, aduh.

Nah, sayangnya generasi millenials saat ini seringkali meluapkan stresnya di media sosial, yang ternyata tidak membantu meredam stres itu sendiri. Belum lagi, unggahan teman-temanmu yang sedang kongkow bahagia di kafe aesthetic! Makin down nggak tuh? Alih-alih mengharapkan perasaan lega setelah menuangkan perasaan di sosial media, mood kamu jadi tambah berantakan.

Dilampir dari situs hellosehat.com, data American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa generasi milenial tergolong lebih lemah dalam menangani masalah dan tingkat stres dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menangani stres yang tak terhindarkan di masa muda kita?

Cluster Personal Development dari Sinergi Muda mencoba membantu anak muda Indonesia untuk menangani stres yang kerap menghampiri, bisa dicoba kamu dengan keberagaman karakter, kebutuhan, dan permasalahannya.

Berikut merupakan kegiatan positif yang bisa kamu, generasi milenial lakukan ketika stres melanda:

Beres-beres rumah

Kredit: pixabay.com

Banyak pikiran, pusing, dihadapkan dengan barang-barang berantakan, rasanya kepala akan meledak sekejap. Tambah bikin stres. Bener deh, milenial, keadaan sekitar yang amburadul mau tidak mau memengaruhi suasana hatimu lho.

Coba deh, kumpulkan niat beres-beres rumah. Menyibukkan diri membersihkan teras rumah, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, hingga dapur bisa membuatmu teralihkan dari stres yang melanda dan pada akhirnya, linangan air mata sedihmu akan berubah jadi tangis haru ketika melihat lantai rumahmu lebih kinclong daripada iklan pembersih lantai di televisi!

Make up-an!

Kredit: stock.tookapic.com

Kalau lagi stres, kamu bisa coba berdandan cantik atau mencoba make up karakter dari tutorial yang kamu lihat di Youtube. Setelah make up-an, langsung abadikan transformasi wajahmu dengan foto-foto sendiri. Siapa tahu ada yang lihat hasil riasanmu dan berminat menggunakan jasa make up untuk graduation, birthday party, atau sejenisnya. Tidak ada yang tahu kan, kalau ternyata kamu berbakat jadi penata rias profesional?

Setelah selesai mengumpulkan ratusan selfie (yang bisa jadi stok display picture-mu berbulan-bulan ke depan), hapus make up-mu dan langsung lah tidur. Selain mood-mu membaik karena wajahmu yang semakin cantik, pikiran teralihkan saat mengukir alis dan memoleskan lip cream, keterampilan make up mu jadi makin terasah dan peluang bisnis bisa dimulai lho.. Stress-healing super produktif, bukan?

Buka lemari baju!

Kredit: Rene Asmussen

Tentunya bukan buka lemari baju untuk dimasukkan ke koper dan siap-siap kabur dari rumah, ya. Bongkar lemari bajumu dan sortir baju-bajumu. Pisahkan yang sudah tidak kamu gunakan dan susun ulang bajumu dengan rapi.

Melipat baju sambil nangis sesegukan juga tidak apa-apa kok, tapi jangan lama-lama yaa.

Ganti suasana kamarmu

Kredit: freestocks.org

Ubah letak tempat tidur, ganti sprei, tukar posisi bingkai foto atau tumpukan buku. Setelah selesai mengubah suasana kamarmu, langsung banting tubuh ke kasur! Stres dan energimu sudah tersalurkan dengan sangat positif dan memberikan kepuasan sendiri setelahnya.

Bantu orang lain

Kredit: pixabay.com

Terkadang stres timbul karena kita terlalu banyak mendapat tekanan dari lingkungan sehingga kita memposisikan diri kita di titik terendah kita. Di saat seperti inilah waktunya kita untuk membuka mata kita dan melihat “ke bawah” dan membantu orang lain yang bernasib kurang beruntung.

Dengan menolong orang lain, kita dapat lebih mensyukuri hidup kita sendiri, karena, toh, banyak orang yang tetap bisa bahagia dengan keterbatasan yang mereka miliki. Karena sesungguhnya dengan menolong orang lain, dengan berbagi, kita bisa memperoleh kebahagiaan jiwa yang sebenarnya.

Matikan telepon genggammu, lakukan lagi hobimu

Kredit: pixabay.com

Stress-healing yang juga bisa kamu lakukan adalah melakukan hobimu. Berenang, membaca ulang novel favoritmu di taman, atau mencoba resep baru, anggap kamu berada di era di mana handphone belum diciptakan!

Jika kamu hobi masak, buatlah makanan kesukaanmu, bagikan hasilnya ke keluarga dan habiskan sendiri sisanya! Setuju dong, kalau makan juga merupakan stress-healing yang cukup baik?

Selamat mencoba, generasi muda beraura positif!