Martin Luther King. Jr bukan nama yang asing bagi para mahasiswa disiplin ilmu sosial, terlebih dengan pidato “I Have A Dream”-nya yang sudah ter-stel di benak banyak orang, dari generasi ke generasi. Walau begitu, nama besarnya juga masih cukup samar-samar di telinga masyarakat Indonesia. Ya memang, ia tidak secara langsung memberikan sumbangsih terhadap kemajuan bangsa Indonesia, akan tetapi ia memberi sumbangsih besar bagi warga dunia terkait aktivisme, hak-hak sipil, dan ilmu humaniora.

Singkatnya Martin Luther King. Jr adalah seorang aktivis yang memperjuangkan hak atas kaum kulit hitam agar mendapatkan persamaan hak, yang dalam kasus ini hak untuk memilih pemerintahan, dan berpolitik di Amerika Serikat. Dan membuatnya tidak hanya sekadar menjadi pemimpin, atau idola bagi pendukungnya, tapi juga menjadi ancaman bagi oposisi –yang tentu– warga kulit putih dan pemerintahan partai konservatif.

Mengingat tahun 1968 silam, tepat pada tanggal 4 April, Martin Luther King. Jr tewas terbunuh oleh seoarang rasis kulit putih bernama James Earl Ray. Pemakamannya sendiri kemudian dilakukan lima hari setelah kejadian penembakan tersebut pada tanggal 9 arpil yang  dihadiri oleh kurang lebih seratus ribu orang yang turun ke jalan untuk mengawal kepergiannya.

Tokoh yang besar pasti akan meninggalkan kita warisan, baik berupa objek, pemikiran, dan bahkan sebuah ide yang dapat dikemas, dalam hal ini salah satunya adalah film. Film Biopic adalah usaha para anak cucu dalam merekonstruksi kejadian-kejadian besar yang pernah dialami oleh penduduk dunia di era lampau.

Film biopic Martin Luther King. Jr yang berjudul Selma pada tahun 2014 cukup menorehkan prestasi karena bisa membwa pulang 4 piala Globe Award dan 1 Piala pada ajang Academy Awards. Judul Selma diambil karena menceritakan periode kampanye berbahaya Martin Luther King. Jr, yang dapat merenggut nyawanya dan puncaknya ia berorasi untuk mendapatkan keadilan dan kejelasan hak memilih bagi kaum kulit hitam pada pemilihan di kota Selma.

Diawali oleh percepatan yang semerawut, film Selma dimulai dengan adegan persiapan Martin Luther King. Jr, dalam penerimaan Nobel Perdamaian. Dilanjutkan dengan terbunuhnya empat gadis kulit hitam oleh bom yang sengaja dipasang oleh Ku Klux Klan, kemudian penolakan hak pilih Annie Lee Cooper untuk pemilu di kota Selma oleh petugas kulit putih, yang akhirnya sampai pada penyelarasan babak pertama dalam cerita film: perundingan alot Martin Luther King. Jr dan Presiden Lyndon B. Johnson mengenai regulasi yang lebih jelas dan adil untuk warga kulit hitam supaya dapat mengunakan hak pilihnya.

Terlepas dari sosok Dr.King yang merupakan tokoh penting dalam memperjuangkan hak-hak rakyat sipil dan kesetaraan untuk kaum kulit hitam, film ini cukup relevan dalam menelaah potret karakter yang digambarkan pada film garapan Ava Duvernay itu.  Diawali dengan dialog-dialog yang tak berkepastian seperti, “Belum selesai juga soal ini?”, “Akankah ini berakhir?”, dan “Bukan kah kita sudah selesai?”

Dan diakhiri oleh pidato yang menekankan pada kata “Segera” menarik karena kita tak perlu mengharap akan adanya sequel film ini, penonton diajak untuk memasuki lorong waktu yang lalu dapat direfleksikan sejenak pada kehidupan, agar dapat diaplikasikan untuk masa depan.

Lantas satu hal pula yang paling disukai oleh penonton film Biopic adalah ‘pengalaman’, karena hal itu yang ingin diangkat oleh film maker untuk para penontonnya, dan jika film itu ialah film yang baik (produksi, skrip, akting) pastinya akan membawa atmosfer yang lebih tinggi. Bisa dikatakan kalau film ini akan menyentuh ranah estetika, jika sebuah film biopic dapat membawa atmosfer kepada para penontonnya kedalam tahapan selanjutnya yaitu menjadi bagian dari saksi sejarah.

Tak terhitung banyaknya film bertemakan penindasan, atau perampasan hak, dalam konteks ini ialah ketimpangan kaum negro Amerika serikat dalam memperoleh hak-haknya. Oleh karena itu, film yang bertemakan seperti ini sudah bukan hal yang baru ditambah film yang diangkat dari kejadian nyata dan memang menjadi “lahan basah” bagi film maker kepada para penonton yang mempunyai persamaan prinsip dengan tokoh yang difilmkan.

Akan tapi film tetap mempunyai dimensi tersendiri, ia dapat dilihat dari banyak ragam sudut. Film Selma dapat ditonton sebagai apresiasi terhadap Martin Luther King. Jr yang menaruh prinsip keberagaman, hak kehidupan, dan moral kebangsaan yang memang dapat diterapkan oleh bangsa yang besar seperti masyrakat Indonesia.