Di era yang semakin global ini kalian tak perlu bingung untuk mencari wadah bagi ingin menulis. Sudah banyak situs online yang menyuplai berbagai network untuk menampung hobi menulis kalian.

Akan tetapi, tak jarang —kalau tidak boleh dibilang sangat sering— menulis adalah pekerjaan yang sangat ingin dikerjakan namun selalu membingungkan saat akan memulai.

Untuk meneruskan apa yang dikatakan R.A Kartini, “dengan membaca kita bisa mengetahui dunia dan dengan menulis dunia bisa mengetahui kita,” maka ada beberapa kiat bagi kamu yang bingung mau menulis.

Berikut ini tips untuk yang ingin niat memulai menulis.

Mendengarkan Berita

Dengan banyak mendengarkan berita, semakin beragam pula topik yang dapat diulas. Koran, televisi, atau Line Today merupakan media yang menafkahkan berita terhangat dan terkini. Kalian bisa menemukan kosakata yang mungkin asing di telinga.

Hal tersebut bisa kalian manfaatkan untuk memperkaya tulisan kamu melalui artikel, atau buletin, dan lain sebagainya. Lebih-lebih bila kalian berpedoman KBBI.

Membaca Tulisan

Seperti apa yang saya sampaikan di awal, bahwa membaca merupakan relasi penting untuk bisa menulis. Membaca opini dari sudut pandang yang bebeda dapat melihat berbagai dimensi yang lebih luas. Memperbanyak bacaan itu sudah hukum wajib bagi penulis karena semua tak lepas dari membaca.

Untuk menulis, kita tak perlu berkutat pada satu kertas saja, karena otak akan menstimulus dengan sendirinya untuk menggerakkan pena di pelukan jari-jari tangan. Biarkan saja pikiran liar kalian berkelana.

Menyaksikan peristiwa

Dengan sendirinya peristiwa akan terekam di memori ingatan meskipun kalian berusaha untuk menolak. Otak selalu mengadopsi apa yang kita lihat, artinya indera penglihatan menyalurkan melalui syaraf otak. Mengapa demikian? Karena wilayah kepekaan yang luas, bila membaca kita perlu berimajinasi suatu peristiwa.

Menyaksikan peristiwa dapat memperluas prespektif dan wilayah dorongan hati akan lebih banyak memproduksi suatu ide.

Wahana tulisan sangat penting dalam pemilihan kata. Karena dengan kekuatan kata kita bisa perlahan menstimulus paradigma masyarakat.