Yang terhormat, bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Salam sejahtera untuk kita semua

Melalui surat ini, saya mencoba untuk mencurahkan pikiran, mempertanyakan beberapa hal yang, mungkin terlalu dangkal dan boleh jadi tidak substansial. Meski untuk menjadi satu kesatuan apa yang disebut dengan surat secara lengkap, jelas surat ini tak masuk kategori surat resmi yang saya pelajari saat SD. Tidak ada kop surat, tidak ada nomor surat, bahkan titimangsa ikut dimangsa. Tapi berhubung ini surat terbuka, di dunia maya pula, semoga tidak mengesampingkan apa yang saya rasa.

Pak, mengenai surat menyurat, meski bentuk dan rupanya sudah berubah, etikanya tetap sama ngga, sih? Misalnya, kepada siapa dituju, tata bahasa yang digunakan, bahkan hingga waktu pengiriman. Tak jarang seiring perubahan zaman, berubah pula bentu surat dan etikanya. Bukan begitu, Pak?

Oh ya, Pak, apakah bersurat dapat menyembuhkan penyakit rindu pada orang-orang terkasih di kampung halaman? Apakah fenomena mudik juga disebabkan, bahwa surat, sekuat apapun isinya, tetap tidak bisa mewakili tatap muka? Boleh jadi wajar jika orang berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya demi mendapat peluk hangat dari keluarga besar. Nyatanya memang pulang dan rumah tak pernah sesederhana yang terlihat. Pulang dan rumah menyimpan daya magisnya sendiri.

Oleh karena itu, Pak, bersedialah untuk terus memperbaiki fasilitas dan tetek bengek orang-orang yang akan memancarkan senyum bahagianya bersama keluarga di kampung halaman. Saya kira mudik ini lebih melibatkan emosi, ketimbang hanya sebatas materi. Meski segala upaya dilakukan untuk mendapatkan materi demi menginjak tanah kelahiran, demi mengenang apa yang sudah memutuskan orang-orang untuk mencari penghidupan yang layak di luar zona nyamannya. Karena tak semua dari kami memiliki kesempatan menjawab jenis ikan dengan mudah dan mendapatkan sepeda sebagai hadiah.

Pak, masih ada lagi hal lain yang ingin saya sampaikan. Misalnya tentang situasi negeri yang terasa semakin ngeri. Saya yakin Anda sudah memikirkannya lebih jauh. Anda, sebagai presiden, juga pasti sudah punya langkah-langkah yang layak ditempuh. Termasuk menyingkirkan orang-orang di sekeliling Anda yang dirasa menghambat lajunya kapal pesiar yang bernama Indonesia ini.

Pak, ada pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Namun semakin kami kenal orang-orang di sekeliling Anda, semakin kami tahu mana yang harus dibuang. Silakan saja dengan atau tanpa tedeng aling-aling, yang merenggut hak anak patut Anda singkirkan.

Duh, Pak, masih begitu banyak yang ingin dicurahkan. Namun apa daya kemampuan saya juga terbatas.

Di hari yang berbahagia ini, memang rasanya tidak tepat jika saya ucapkan: selamat jalan, tuan presiden, seperti apa yang dikisahkan Gabriel Garcia Marquez dalam tulisannya. Oleh sebab itu saya ucapkan kepada Anda: selamat ulang tahun, tuan presiden. Semoga Anda selalu sehat, bahagia, panjang umurnya, serta mulia.