Permasalahan akan linkungan hidup, seakan tidak pernah ada hentinya untuk dibahas. Banyak hal yang sering kita jumpai mulai dari kerusakan lingkungan secara alami maupun yang disengaja oleh manusia. Tak heran apabila banyak populasi makhluk hidup yang mulai terancam punah akibat hal tersebut.

Ben Fijal yang saat itu berada di kelas 8 Green School Bali berkesempatan melakukan kunjungan belajar di Kalimantan. Di sana ia bertemu dengan pemuda dari Suku Dayak dan beberapa orang yang sangat menginspirasinya. Pengalaman mendalam yang ia rasakan kala itu adalah bertemu dengan orangutan, di mana populasi habitatnya menurun drastis dalam setengah abad yang juga mengakibatkan jumlah populasinya berkurang. Sedangkan pada periode yang sama, jumlah populasi manusia di dunia meningkat hingga dua kali lipat.

Berawal dari idenya, Ben yakin bahwa handkerchiefs (saputangan) dapat menjadi sebuah media yang menarik untuk melakukan kampanye guna mengurangi pemakaian tisu di komunitas sekolahnya, karena pemakaian tisu yang berlebihan juga berarti mendukung penebangan pohon secara berlebihan pula.

TRI Handkerchiefs merupakan sebuah proyek sosial yang terinspirasi dari Tri Hita Karana, sebuah konsep keseimbangan dan keberlanjutan yang dianut oleh mayoritas masyarakat Bali. Setiap saputangan didesain secara unik dengan menampilkan peta wisata, penginapan, dan juga kuliner. Bahan dasar saputangan tersebut terbuat dari sprei bekas yang didaur ulang dan juga merupakan sumbangan dari beberapa hotel di Bali. TRI hanya memproduksi satu-satunya saputangan di dunia yang juga sekaligus mendidik masyarakat sembari menghentikan perubahan iklim secara ekstrim.

Dimulai pada Juni 2016, TRI telah melakukan banyak kegiatan untuk membantu melindungi hutan Indonesia, di antaranya ialah memperbaiki dan merenovasi perpustakaan terapung yang diprakarsai oleh organisasi Ransel Buku dan hingga saat ini perahu yang digunakan dapat menjangkau lebih dari 400 anak di 5 desa tepi sungai terpencil di daerah Kalimantan Tengah.

Kemudian membantu pengairan hutan lahan gambut di Taman Nasional Sabangau dengan cara membangun dua buah bendungan yang juga dibantu oleh Borneo Nature Foundation untuk mengairi beberapa hektar hutan gambut supaya terhindar dari kebakaran hutan sekaligus menjaga ekosistem yang ada di dalamnya.

Lembaga ini juga bekerjasama dengan HAkA (Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh), organisasi sosial yang bergerak di bidang lingkungan dalam misi mengembalikan 1 hektare lahan perkebunan kelapa sawit ilegal di Aceh. Juga membantu organisasi Ranu Welum dalam mendistribusikan publikasi mereka, serta siaran tentang kenservasi dan bahaya kabut di 25 sekolah, universitas dan kelompok masyarakat di Kalimantan Tengah, dan membantu pelatihan 25 relawan pemadam kebakaran di Kalimantan Tengah.