Anak Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Menurut riset Central Connecticut State University pada 2016, minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Dari dalam negeri, riset tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang minat baca yang terakhir kali dilakukan 2012, menunjukkan hanya 17,66 persen anak Indonesia yang memiliki minat membaca. Sangat kontras dengan minat menonton dengan capaian 91,67 persen.

Menaikkan minat baca anak Indonesia adalah tantangan yang harus dijawab. Ada banyak komunitas berdiri untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia. Salah satunya Taman Baca Inovator (TBI).

IndonesianYouth.org berkesempatan mewawancarai Taman Baca Inovator untuk memahami program-program TBI.

TBI sudah berdiri sejak kapan?

Kami sudah bergerak sejak 2014, namun yayasan baru berdiri 2016.

Apakah ada perbedaan sebelum berdirinya yayasan dan sekarang?

Secara pergerakan enggak ada. Kami mendirikan yayasan agar Taman Baca Inovator memiliki badan hukum dan kepengurusan yang jelas.

Mengapa dinamai Taman Baca Inovator?

Jadi, anak usia emas, (4-12 tahun) seperti kertas putih, tinggal kita tulis atau gambar di atasnya. Kami di sini enggak sekadar membangun habit, tapi juga hasil ke keluarga, kampung, bahkan Indonesia. Maksud inovator di sini bukan buat invention aja, tapi juga berpikir out of the box. (Taman Baca Inovator ingin memberi) inspirasi untuk belajar banyak dan berbuat banyak.

Taman Baca Inovator sudah memberi dampak apa saja?

Per 30 Desember 2016, kita sudah mendistribusikan 10.554 buku ke 16 taman baca di 8 kabupaten yang menjangkau kurang lebih 3.000 anak.

Kenapa taman baca didirikan di desa-desa? Kenapa enggak di daerah perkotaan juga?

Kita ingin menjangkau anak-anak yang enggak memiliki akses ke buku-buku. Di perkotaan, akses ke buku relatif lebih gampang. Di perkotaan mungkin akan ada buat anak-anak yang enggak mampu mengakses buku.

Apa saja program yang dilakukan di taman baca?

Kita ada English Fun Day, di mana relawan mengajarkan bahasa Inggris ke anak-anak secara menyenangkan. Ada juga kelas kreativitas, dan di Bogor direncanakan akan ada kelas memasak. Program disesuaikan dengan ketertarikan dan sumber daya setempat. Contohnya di Sumatera Selatan (Sumsel), kita bikin lomba mengarang. Kita dibantu relawan dari pusat, kita pasang lowongan di Indorelawan dan dari kita sendiri juga. Di Tangerang kita buat Art Day, di situ anak menggambar, menari, nyanyi. Yang jelas acara ini intinya buat menarik anak-anak buat baca.

Apa yang dilakukan relawan di Taman Baca?

Relawan itu membantu kita mencapai tujuan Taman Baca Inovator. Relawan membantu menyortir buku, mengajar di taman baca, yang donasi juga termasuk relawan.

Apa orang tua juga boleh ikut program-program ini?

Boleh, kalau orang tua memang tertarik. Kami memiliki empat pilar, yaitu orang tua, pemerintah desa, tokoh lokal dan sekolah. Empat pilar ini bersinergi dengan kami buat meningkatkan minat baca anak-anak.

Jadi TBI bekerja sama dengan sekolah? TBI memberikan buku, atau bagaimana?

Kalau memberikan buku sih enggak, karena sekolah di bawah regulasi Dinas Pendidikan. Kita bekerja sama saja sama sekolah, supaya ruang gerak kita juga lebih luas. Kita membantu tugas anak sekolah dekat taman baca, misalnya untuk program sekolah atau ekstrakurikuler. Atau ada guru yang punya program membaca lima belas menit sebelum pelajaran, kita bisa bantu bawakan buku.

Tentang program Anak Inovator, bagaimana cara kerjanya?

Jadi, Anak Inovator adalah bantuan ekonomi untuk keperluan sekolah untuk anak yang berprestasi. Kita memberi laporan tiap tiga bulan sekali.

Syarat apa yang haru dipenuhi untuk menerima bantuan?

Anak harus berprestasi di sekolah, kemudian direkomendasi oleh staf. Staf melihat anak ini rajin membaca di taman baca. Kemudian, kepada calon orang tua inovator, kita berikan bukti dan latar berlakang anak ini, supaya jelas. Orang tua juga harus berkomitmen selama satu tahun dan diikat kode etik perlindungan anak.

Program Kereadta, ide ini datang dari mana?

Jadi waktu naik kereta, (Nurkholis Makki, Program dan Monitor TBI) lihat banyak orang main handphone. Gimana seandainya orang-orang ini baca buku? Jadi diusulkan deh program ini.

Acara ini diadakan kapan dan di mana?

Bertepatan Hari Buku Internasional, tanggal 23 April di kereta commuter line dari Stasiun Kota ke Stasiun Pondok Cina.

Gimana cara kerja program ini?

Yang mau ikut, bawa buku buat dibaca di kereta. Bukunya enggak boleh mengandung unsur SARA atau kekerasan, karena setelah itu buku disumbangkan ke komunitas-komunitas literasi. Nanti setelah turun di Pondok Cina, kita ada talkshow di perpustakaan UI. Kita mau membicarakan hal ini lebih lanjut dengan BEM UI Ilmu Keperpustakaanan.

Gimana sih cara kerjanya donasi buku ke TBI?

Kalau bukunya banyak, kita biasa jemput bukunya, kalau sedikit dan masih bisa dipaketkan atau pakai Gojek, ya dipaketkan aja.

Selain dari donasi, apa TBI juga membeli buku?

Iya, biasanya kita beli langsung dari penerbit supaya dapat diskon. Kita bilang buku ini untuk taman baca anak-anak di daerah.

Biasanya donasi buku dikirim ke kantor pusat, bagaimana kalau yang berdonasi dari Maluku misalnya?

Biasanya memang donasi dikirim ke sini dulu, karena taman baca kita berada di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Tapi bisa juga langsung ke taman baca di daerah itu, karena staf kita di sana juga sudah diedukasi untuk menyortir buku.

Setelah disortir, kalau ada buku yang nggak layak, gimana?

Untuk buku yang nggak layak untuk anak-anak, buku akan dijual atau diberikan ke yang butuh.

Kalau funding, dari mana ya?

Selama ini kita dapat funding dari founder. Kita juga dapat sumbangan dari Kedutaan Besar Australia untuk pembangunan dan biaya operasional tiga taman baca baru di Maluku.

Gimana dengan kebun sayur organik? Apa itu sumber funding juga?

Ya, Organic Farm Inovator itu sedang kita kembangkan, rencananya akan jadi sumber funding juga.

Tempat-tempat yang didirikan menjadi taman baca itu disewa atau didirikan sendiri?

Tempatnya disumbangkan oleh desa atau orang-orang sekitar. Kadang ada ruangan yang sudah dibangun tapi nggak terpakai. Contohnya ruangan disiapkan untuk Karang Taruna, tapi Karang Tarunanya nggak jalan. Atau ruang Puskesmas yang hanya dipakai dua kali sebulan.

Kalau ada yang mau berdonasi selain bentuk buku, apa bisa?

Bisa, dalam bentuk uang, nanti kita yang belikan bukunya, dan kita laporkan ke donatur digunakan untuk apa saja.

*saat wawancara pihak TBI belum bisa memberikan informasi untuk penyumbang dana karena masih tahap pembuatan.