Dengan meluasnya dan makin cepatnya arus informasi, pengaruh budaya pop bagi kehidupan masyarakat semakin meluas dan mengakar. Pada presentasi di acara The Pop Culture Project di @america pada 5 Maret 2017, Kartika Jahja menunjukkan bahwa budaya pop di masyarakat yang masih seksis bisa merupakan implementasi nilai-nilai seksisme dan dapat juga melanggengkan nilai-nilai itu.

Berbekal dari kesadaran tentang besarnya pengaruh budaya pop terhadap kehidupan masyarakat luas, ia menyatakan bahwa sesungguhnya budaya pop bisa dijadikan senjata untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender.

Untuk membuktikan bahwa budaya pop Indonesia masih berciri seksis, ia memberi contoh meme yang tersebar di media sosial. Salah satunya berbentuk kutipan berbagai variasi: bahwa hidup itu seperti diperkosa –tidak jelas waktunya, tidak enak, namun jika tidak bisa melawan maka dijalani saja. Bagi penyintas pemerkosaan, meme ini tentunya dapat memicu trauma.

Ia juga menunjukkan sebuah grafis yang menyebut bahwa semakin terbuka pakaian seorang perempuan, semakin ia disayang setan. Kemudian perempuan yang berjilbab namun belum ”sepenuhnya” pun, ia sebut, malah terkena objektifikasi, meskipun jilbab mereka diklaim menghindarkan dari objektifikasi. “Kita dengar juga istilah jilboobs,” ujar Kartika, “Jadi perempuan-perempuan berjilbab pun kena objektifikasi.” Di samping grafis ini, ia memberi contoh yang menyamakan perempuan tidak berpakaian tertutup dengan permen tanpa bungkus yang dihinggapi lalat: kotor.

Media sosial sekarang memang memegang peran dalam perkembangan budaya pop bagi para penggunanya, namun di luar media sosial, masih ada pergerakan iklan-iklan dan artikel-artikel.

Standar kecantikan di Indonesia masih eurocentric. Hal ini, di antaranya, dibuktikan dengan banyaknya produk-produk yang mengklaim memutihkan kulit. “Saya pernah ke supermarket, saya hitung jumlah produk kecantikan, ada 81. 70 di antaranya memiliki label whitening atau lightening,” ujarnya.

Perempuan yang masih minor pun tidak lepas dari penilaian masyarakat yang memuja kecantikan eurocentric. Kartika memberi contoh sebuah tulisan yang membandingkan foto Aurel Hermansyah saat masih duduk di bangku SMP –berkulit cokelat dan belum berdandan –dengan fotonya kini yang berkulit lebih putih dan sudah pandai berias.

Kini, sangat mudah mengobservasi aspek-aspek budaya pop dari Internet. Melalui sebuah pencarian Google dengan kata kunci “cewek jilbab” dan “cewek tanktop”, Kartika menunjukkan sekali lagi bahwa perempuan, tak peduli pakaiannya, berpotensi menjadi korban objektifikasi. Pencarian Google ini memberi hasil konten-konten pornografi dan konten seksis lainnya.

Ia menceritakan pengalaman pribadinya, bahwa dulu sebagai remaja yang mudah terpengaruh, ia lebih mudah memahami feminisme dari budaya pop, yaitu seni. Dalam kasusnya, budaya pop ini adalah Riot Grrrl, pergerakan punk feminis yang berawal dari Washington, Amerika Serikat.

Budaya pop itu lebih bisa diterima karena kodratnya ringan dan mudah dicerna semua orang, namun bisa juga dibuat membungkus isu-isu yang serius. Salah satu yang mempraktikkan hal ini, ujar Kartika, adalah Magdalene, sebuah portal feminis yang tiap artikelnya ditemani dengan ilustrasi yang menarik. Selain itu, ada juga media baru yaitu Freak Magazine, yang bisa menyajikan feminisme pada kaum hipster yang katanya apolitis.

Agar mudah dimengerti, Magdalene menggunakan konten-konten membumi. “Dari awal kami memang enggak main konsep,” ujar Devi Asmarani. Konten Magdalene dibuat agar sederhana tanpa menyederhanakan, yaitu dengan menyajikan esensi masalah tanpa diperumit.

Media sosial, yang sebelumnya ditunjukkan sebagai salah satu indikator budaya pop yang terpengaruh seksisme, sekarang memiliki gerakan-gerakan keadilan sosial di dalamnya. Contohnya adalah akun-akun yang menyebar konten feminisme dan blogger fashion yang menyajikan konten body positivity, sebuah pergerakan agar semua orang mencintai tubuhnya, bagaimanapun bentuknya.

Pergerakan feminisme juga tampak di bidang seni. Beberapa waktu lalu, Yaya Sung menggelar pameran fotografi bertajuk “57 tahun api Kartini”, yang memamerkan portret para wanita penyintas tragedi 1965. Perempuan-perempuan ini tidak ditunjukkan sebagai sosok-sosok yang muram, namun tersenyum dan bahagia. “Interpretasi saya, ini adalah sebuah selebrasi terhadap kehidupan,” jelas Kartika.

Dengan Bersama Project, Kartika pernah membuat sebuah karya berjudul “Tubuhku Otoritasku”. Kartika dapat melihat sendiri dampak dari karya ini, dengan adanya penyintas anoreksia, bulimia dan pemerkosaan yang berterima kasih padanya atas adanya proyek ini.

Media arus utama pun, sebutnya, sekarang mulai bergeser. Misal, Teen Vogue yang kini memiliki konten-konten keadilan sosial dan Sports Illustrated yang sampulnya memampang model plus size. Terkait hal ini, menurutnya, kita perlu mengetahui apakah pergeseran ini disebabkan oleh adanya perubahan dalam media atau perubahan permintaan masyarakat yang kini meminta konten tersebut.

Ia memuji Teen Vogue sebagai majalah yang berhasil membungkus isu-isu sosial sehingga bisa menarik pasarnya. Hal ini seharusnya bisa juga diterapkan di Indonesia. Ia menyesalkan bahwa saat ia mengorganisir One Billion Rising 2013, ia menghubungi majalah-majalah remaja perempuan agar mereka menyoroti masalah-masalah kekerasan gender, namun, redaksi majalah-majalah tersebut mengklaim mereka tidak memuat masalah yang “begitu gelap” karena mereka adalah majalah remaja. “Isu-isu ini kan nggak jauh dari pembaca mereka,” tambah Kartika.

Usai membahas isu-isu terkait budaya pop serta nilai-nilai seksisme yang kental dengan masyarakat, seluruh peserta The Pop Culture Project diajak untuk menyalurkan pendapat mereka tentang iklan-iklan beredar yang dinilai masih menjadi bukti adanya stereotip gender dan secara berkelompok merumuskan bagaimana seharusnya iklan tersebut tayang dengan menngedepankan kesetaraan gender di dalamnya. Dari diskusi singkat tersebut, seluruh peserta didorong untuk menyuarakan harapan mereka terkait fenomena ini dan output yang diharapkan adalah siapapun kita, dimanapun kita dan apapun yang kita lakukan, kita bisa menjadi awal dari pergerakan untuk membuat budaya pop untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender.

tulisan ini ditulis oleh Primatara dan Raisa Rifat.