Zimbardo dikenal sebagai “The Man Who Created the Prison”. Sebutan itu relevan dengan eksperimen yang dilakukan olehnya yang di Stanford University, California dan terkenal dengan sebutan “Stanford Prison Experiment”.

Melalui eksperimennya, Zimbardo membuat sebuah penjara rekayasa untuk memahami perilaku abusive di sistem yang berlaku dalam penjara dan ingin mempelajari bagaimana sebuah situasi dapat berdampak pada tingkah laku manusia.

Zimbardo dan timnya mengubah sebagian basement kampusnya menjadi sebuah penjara rekayasa. Kemudian, untuk mencari partisipan, mereka menyebarkan sebuah selebaran yang menawarkan akan memberi upah sebesar $15 per hari selama dua minggu jika berpatisipasi dalam eksperimen tersebut. Terpilihlah 24 pria yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tahanan dan penjaga.

Setelah terpilih, mereka diminta untuk kembali ke rumah untuk menunggu informasi lanjutan. Tidak disangka, pria yang menjadi tahanan dan “ditangkap” di rumah mereka masing-masing kemudian dimasukkan ke mobil polisi. Mereka yang menjadi tahanan, diberikan baju yang tidak nyaman beserta nomor tawanan layaknya stereotip pakaian tahanan. Begitu juga dengan mereka yang menjadi penjaga, mereka diberikan seragam dengan kacamata hitam dan tongkat kayu.

Singkat cerita, eksperimen tersebut, yang awalnya ditargetkan hingga 2 minggu, namun hanya bertahan sampai 6 hari. Di hari kedua, sudah ada tindakan perlawanan dari pihak tawanan yang menutup pintu sel mereka dengan matras tidur, melihat kejadian tersebut penjaga tahanan pun menyemprot mereka dengan hydrant.

Tidak hanya sampai situ, di dalam prosesnya penjaga tahanan mulai “menginternalisasi” perannya dengan melakukan tindakan-tindakan yang mereka anggap wajar dilakukan oleh sekelompok penjaga tahanan, mereka menghukum tawanan tanpa alasan yang jelas. Hukuman yang diberikan pun bermacam-macam, dari meminta tahanan untuk mengulang nomor identitas mereka, meminta untuk melakukan exercise, hingga menyuruh mereka untuk striptis tanpa menggunakan pakaian hanya dalam rangka untuk memalukan para tahanan.

Selama 6 hari itu, ada satu tahanan yang keluar dan diganti dengan pria yang baru. Semakin hari, tindakan para penjaga semakin keterlaluan dan para tahanan pun semakin pasrah diperlakukan semena-mena.

Melihat hal tersebut, Zimbardo dan tim memutuskan untuk menyelesaikan eksperimennya lebih cepat dari tenggat waktu yang sudah ditentukan. Namun intinya, eksperimen ekstrim ini, Zimbardo berhasil membuktikan bahwa situasi dapat berdampak pada tingkah laku manusia di dalamnya. Eksperimen ini tidak pernah dilanjutkan atau direplika.

Selama prosesnya, eksperimen ini memiliki video dokumenter yang kini bisa ditonton di YouTube. Karena begitu terkenalnya, beberapa sutradara membuat film berdasarkan kejadian tersebut. Sebut saja, “The Experiment” (2010) oleh Paul T. Scheuring dan yang terbaru adalah film “The Stanford Prison Experiment” (2015) oleh Kyle Patrick Alvarez. Jadi, untuk lebih memaham ieksperimen ini, kamu bisa menonton dokumenternya atau langsung menonton kedua film yang terinspirasi dari eksperimen Stanford Prison Experiment.

The Experiment

The Stanford Prison Experiment