Tepat hari ini, 27 tahun lalu, seorang pria baru saja dibebaskan setelah menjalani masa kurungan di balik jeruji besi selama 27 tahun. Ya, ia Nelson Mandela. Mandela ditahan dengan tuduhan rencana kudeta terhadap pemerintah Afrika Selatan.

Pucuk persoalannya, apartheid telah lama menghantui Afrika Selatan. Jika ingin mencari kambing hitamnya, barangkali Hendrik Verwoerd orangnya. Ia seorang kulit putih yang menyelipkan gagasan apartheid dalam kolonialisme, karena terpengaruh paham NAZI.

Verwoerd dan orang kulit putih lainnya menganggap bahwa mereka adalah kaum elit. Bahkan, sebagai Perdana Menteri ke-7 Afrika Selatan, Verwoerd semakin mempertegas dominasi kulit putih. Pendidikan dan lapangan pekerjaan diatur berdasarkan ras. Ia menempatkan mayoritas masyarakat kulit hitam di kawasan khusus yang biasa disebut Bantustan. Di luar Bantustan, orang berkulit hitam wajib membawa paspor.

Memasuki masa pemerintahan Presiden Frederik Willem de Klerk, Afrika Selatan mulai menemui titik terang. Pada pidato parlemen 1990, de Klerk mengumumkan reformasi dan mengakhiri masa tahanan para aktivis. Nelson Mandela pun dibebaskan, pada 11 Februari 1990. Momentum pembebasan Nelson Mandela adalah sebuah gerbang menuju hancurnya apartheid di Afrika Selatan.

1993, Nelson Mandela dan Presiden de Klerk meraih nobel perdamaian bersama, karena dirasa telah berhasil menabrak tembok pemisah kulit hitam dan putih. Apartheid runtuh.

Masyarakat Afrika Selatan mulai bernapas lega ketika 1994. Seorang dengan nama asli Rolihlahla Mandela ini, menjadi presiden pertama Afrika Selatan berkulit hitam. Mandela memberikan dampak begitu besar. Bukan hanya untuk Afrika Selatan, tapi untuk dunia. Bahkan, pagelaran akbar Piala Dunia 2010, yang menjadikan Afrika Selatan sebagai tuan rumah, tak terlepas dari peran seorang Nelson Mandela.

Desember 2013, pejuang anti apartheid tersebut menghembuskan napas terakhirnya. Menutup matanya dengan tenang dalam damai. Berhasil meruntuhkan apartheid, menciptakan iklim baru dalam memanusiakan manusia.

Tapi urusan kemanusiaan bukan berarti selesai begitu saja karena masa apartheid telah dirobohkan. Bukan begitu, Bung?