Hari ini, 72 tahun lalu, Robert “Bob” Nesta Marley atau lebih kita kenal sebagai Bob Marley lahir. Ia seorang musikus, aktifis politik, dan yang belum banyak diketahui, tokoh agama. Bob Marley juga yang mempopulerkan genre reggae di mana selama perjalanan kariernya telah menjual lebih dari 75 juta kopi di seluruh dunia, dan menjadikannya sebagai superstar internasional pertama dari negara dunia ke-tiga, Jamaika.

Ia dilahirkan di kota St. Ann Parish, Jamaika dari pasangan Cedella Booker dan Norval Marley, dan memiliki julukan “White Boy” karena ayahnya seorang kapten angkatan laut berkebangsaan Inggris.

Masa kecil Marley tidak begitu menyenangkan, ia kerap mendapat ejekan dikarenakan isu mixed racial-nya, yang kala itu isu tersebut masih kental. Tetapi itu justru membawa dirinya kepada pemikirkan akan identitasnya yang sampai pada fase reflektif di mana ia mengemukakan:
“Saya tidak memiliki prasangka terhadap diriku sendiri, saya tidak pernah mejadikan diri saya untuk menjadi siapaun, saya tidak pernah menjadikan diri saya sebagai orang hitam maupun orang putih, saya menjadikan diri saya untuk Tuhan yang telah menjadikan diri saya baik sebagai orang hitam dan orang putih.”

Marley memulai karier musiknya saat dia berteman dengan Neville “Bunny” Livingston (yang kemudian menjadi saudar tirinya), di saat usianya masih 14 tahun. Mengenal Bunni dan musik membuat dirinya seakan lebih “hidup”. Ia pun memutuskan keluar dari sekolah dan memulai karier musiknya di toko-toko lokal.

Beberapa lama kemudian ia membentuk band dengan julukan The Wailing Wailers yang membawanya kelak menjadi seorang superstar. The Wailing Wailers sempat terpaksa vakum akibat masalah finansial, yang oleh karena itu Marley pun memutuskan untuk pergi menjenguk ibunya di Amerika Serikat, dan pada saat itu ia juga menikahi Rita Anderson pada tahun 1966. Di tahun itu juga Marley memutuskan kembali ke Jamaika dan mendalami gerakan Rastafarian, yang lantas selalu melekat pada diri sekaligus perjalanan kariernya.

Rastafarian sendiri ialah gerakan keagamaan dan pandangan politik, Rastafarian muncul di Jamaika pada tahun 1930-an yang menyerap banyak sumber pemikiran seperti Manifesto Marcus Garvey –seorang nasionalis Jamaika–, kitab perjanjian lama, sampai kebudayaan Afrika.

Muatan ajaran Rastafari, yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian. Rastafarian adalah dampak pada supremasi kulit hitam dengan pembelaan kemerdekaan diri dan kekerasan, dengan musik sebagai platform untuk menyebarkan doktrin gerakan tersebut.

Sepanjang hidupnya Marley tidak hanya menjadi pionir dalam musik reggae tapi juga menjadi sosok pembuat sensasi yang kurang lazim di dunia internasional, seperti memiliki anak yang cukup banyak, di mana yang ia akui hanya 11 dari beberapa wanita.

Bob Marley juga membawa nilai-nilai pada gaya hidup dan kebutuhan yang dikonsumsi oleh masyarakat, termasuk Indonesia, seperti gaya rambut deadlock maupun pernak-pernik merah-kuning-hijau yang melekat pada gerakan Rastafarian.

Dedikasinya pada musik sebagai sarana untuk menyuarakan idealismenya membawa nama Bob Marley sebagai ikon dunia, bukan hanya ikon reggae, tetapi Rastafarian. Ia juga yang menginspirasi anak muda untuk dapat berkarya dengan apa yang kita yakini, maupun untuk orang sekitar.