Generasi milenial dinilai sebagai generasi terendah penghasilannya, ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Milenial pun terancam kehilangan daya beli rumah dengan pendapatan mereka saat ini. Tetapi tenang dulu, hal itu masih bisa diatasi melalui perencanaan keuangan.

Associate Agency Director Prudential, Adrian Irwandika Pradana, mengatakan memiliki perencanaan keuangan adalah hal terpenting untuk bisa mencapai tujuan sesuai dengan pendapatannya masing-masing.

“Makin spesifik target atau tujuan, maka semakin baik. Karena perencanaannya juga semakin jelas dan detail,” katanya dalam acara IndonesianYouth Pitstop: Financial Planning for Beginners, didukung oleh EV Hive dan Bookabuku.com, di Jakarta, Minggu (10/09/2017).

Ia menggambarkan, untuk memiliki rumah, kendaraan pribadi, biaya pernikahan, membelikan orang tua barang, atau biaya liburan, misalnya, semua butuh biaya.

“Bayangkan jika gaji kita dimulai dari angka lima juta dan bisa menabung sekitar dua setengah juta. Maka butuh 64 tahun baru bisa terwujud,” ucapnya.

Fokus dalam perencanaan keuangan adalah pada cash flow. Ada tiga aturan cash flow yang harus diingat: (1) spent less than you earn, (2) earn more than you spent, (3) manage the gap.

“Jadi, sebelum kita menggunakan uang (untuk pengeluaran), segala pemasukan dikumpulkan menjadi satu dan dipetakan bujetingnya. Setelah pemetaan selesai baru kita menggunakan uang kita sesuai dengan pemetaan bujeting,” jelasnya.

Ia juga mencontohkan perencanaannya, penghasilan (setelah dipotong pajak) baiknya dikeluarkan untuk: sedekah (lima persen), dana proteksi (10 persen), tabungan dana darurat atau tujuan jangka pendek bagi yang belum menikah (10 persen), investasi tujuan jangka panjang (10 persen), dan usahakan tidak memiliki cicilan atau utang (jika memiliki tidak boleh lebih dari 35% dari gaji utama).

“Selebihnya untuk biaya hidup dan hiburan,” sebutnya.

Meski begitu, Randi, sapaan akrab Adrian, mengakui kesadaran masyarakat dalam melaukan perencanaan keuangan masih rendah.

“Meskipun financial planning sangat penting namun belum banyak dipahami masyarakat Indonesia. Financial Planner di Indonesia juga masih sedikit,” ungkapnya.

kredit: vimeo.com

Bila merujuk penelitian Resolution Fondation dengan fakta bahwa pendapatan generasi milenial sebenarnya lebih rendah dari generasi sebelumnya, perencanaan keuangan bisa menjadi kunci mencapai tujuan. Membeli rumah, misalnya. Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Bank, harga properti di Indonesia saat ini lebih ‘akrab’ untuk masyarakat berpenghasilan Rp 12 juta ke atas.

Kemudian, Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung, menilai generasi milenial atau generasi muda di Jakarta terancam kehilangan daya beli rumah.

Ignatius beralasan, penghasilan milenial masih berkutat di level bawah kelas menengah –sebanyak 46 persen generasi milenial di Jakarta penghasilannya masih di bawah Rp 4 juta.

“Ini membuat milenial yang berpenghasilan Rp 4 juta terancam akan kehilangan daya beli rumah di tahun 2018,” kata Ignatius seperti dikutip Detik.com.

Sekali lagi, melakukan perencanaan keuangan adalah penting. Lagipula, bukan seberapa besar penghasilannya, tetapi seberapa baik menjaga pengeluarannya.